Jimmy Rutin Bagikan Kue Keranjang ke Pengurus RT
Bagi yang percaya, makan kue keranjang saat Imlek akan mendapat rezeki dan keselamatan.
Tayang:
Editor:
jun
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Tradisi memberi hantaran kue keranjang masih dilakukan menjelang perayaan Imlek. Hal itu juga dilakukan keluarga Jimmy Sutanto, warga Tionghoa dari Kampung Ketandan (kawasan Pecinan, Red), Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta.
Jimmy mengatakan tradisi mengirimkan kue keranjang sudah ada sejak zaman leluhurnya dan hingga kini masih diteruskan sampai ke generasinya. “Saya setiap Imlek pasti membagikan kue keranjang kepada Pak RT, RW dan juga tetangga sekitar rumah,” ujar Jimmy, yang juga pengusaha es krim bermerek Panda, ketika ditemui Tribun Jogja di kantornya di Jalan Gandekan Lor, Yogyakarta, Rabu (2/2/2011).
Sebagai warga keturunan keluarga Tan I Siang (asli Tiongkok), Jimmy mengatakan membagi hantaran kue keranjang biasanya dilakukan oleh warga Tionghoa yang merayakan Imlek kepada warga yang tak merayakan. Atau, bisa juga dari anak kepada orangtuanya. Tapi kalau sesama Tionghoa tak saling tukar-menukar kue keranjang.
Menurut Jimmy, kue keranjang memiliki simbol pemersatu. “Diharapkan setiap orang yang menerima kue keranjang dari warga Tionghoa itu memiliki makna jalinan kebersamaan dengan warga Tionghoa bertambah erat,” jelas pemilik Toko Listrik Sinar.
Jimmy berkata biasanya keluarga Tionghoa membuat atau membeli kue keranjang untuk dipersembahkan kepada dewa-dewi. Selain itu juga sebagai hantaran kepada keluarga, teman, dan relasi. Kue keranjang bentuknya bulat, berwarna coklat, rasanya manis, seperti jenang dodol hanya saja lebih padat.
“Bagi yang percaya, makan kue keranjang pada saat Imlek akan mendapat rezeki dan keselamatan,” ujarnya.
Ketua Paguyuban Warga Tionghoa Bhakti Putera ini merayakan Imlek mulai Rabu (2/2/2011). Pada siang hari dia mulai menyiapkan sesaji bagi leluhurnya berupa nasi, masakan yang berasal dari tiga jenis hewan yakni ikan, daging ayam dan daging sapi atau babi. Sesaji lainnya berupa buah-buahan apel, pisang raja, dan pir. Minuman arak juga ikut di deretan sesaji itu.
“Setelah didoakan bersama keluarga, kami lalu melempar koin. Kalau koinnya jatuhterbalik, berarti sesaji itu sudah dimakan oleh para arwah,” ucapnya.
Lalu pada malam harinya, Jimmy mengadakan acara kumpul bersama keluarga untuk makan malam. Jimmy yang beragama Konghucu ini sebelum makan bersama juga berdoa dengan menggunakan dupa hanya di rumahnya.
Dia mengatakan pagi harinya, bagi yang punya keluarga masih belum menikah, mereka akan sungkem kepada orang tuanya. Dan anak-anaknya akan diberi angpau. Setelah itu dilanjut dengan kegiatan bersih kubur, yakni membersihkan makam nenek dan kakek keluarga mereka.
“Karena anak-anak saya ada di Jakarta dan tidak pada pulang, jadi saya hanya merayakan Imlek bersama istri,” ucap Jimmy.
Ia mengatakan kalau di Tiongkok Imlek berarti merayakan datangnya musim semi. Adapun Jimmy emaknai Imlek sebagai kedatangan tahun baru. Doa-doa yang dipanjatkan Jimmy adalah dioa pengharapan agar tahun ini diberikan kesehatan, keselamatan dan kemakmuran. “Harapannya tahun kelinci ini bisa memberi rejeki dan pengharapan yang lebih baik lagi,” tegasnya..
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Tradisi memberi hantaran kue keranjang masih dilakukan menjelang perayaan Imlek. Hal itu juga dilakukan keluarga Jimmy Sutanto, warga Tionghoa dari Kampung Ketandan (kawasan Pecinan, Red), Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta.
Jimmy mengatakan tradisi mengirimkan kue keranjang sudah ada sejak zaman leluhurnya dan hingga kini masih diteruskan sampai ke generasinya. “Saya setiap Imlek pasti membagikan kue keranjang kepada Pak RT, RW dan juga tetangga sekitar rumah,” ujar Jimmy, yang juga pengusaha es krim bermerek Panda, ketika ditemui Tribun Jogja di kantornya di Jalan Gandekan Lor, Yogyakarta, Rabu (2/2/2011).
Sebagai warga keturunan keluarga Tan I Siang (asli Tiongkok), Jimmy mengatakan membagi hantaran kue keranjang biasanya dilakukan oleh warga Tionghoa yang merayakan Imlek kepada warga yang tak merayakan. Atau, bisa juga dari anak kepada orangtuanya. Tapi kalau sesama Tionghoa tak saling tukar-menukar kue keranjang.
Menurut Jimmy, kue keranjang memiliki simbol pemersatu. “Diharapkan setiap orang yang menerima kue keranjang dari warga Tionghoa itu memiliki makna jalinan kebersamaan dengan warga Tionghoa bertambah erat,” jelas pemilik Toko Listrik Sinar.
Jimmy berkata biasanya keluarga Tionghoa membuat atau membeli kue keranjang untuk dipersembahkan kepada dewa-dewi. Selain itu juga sebagai hantaran kepada keluarga, teman, dan relasi. Kue keranjang bentuknya bulat, berwarna coklat, rasanya manis, seperti jenang dodol hanya saja lebih padat.
“Bagi yang percaya, makan kue keranjang pada saat Imlek akan mendapat rezeki dan keselamatan,” ujarnya.
Ketua Paguyuban Warga Tionghoa Bhakti Putera ini merayakan Imlek mulai Rabu (2/2/2011). Pada siang hari dia mulai menyiapkan sesaji bagi leluhurnya berupa nasi, masakan yang berasal dari tiga jenis hewan yakni ikan, daging ayam dan daging sapi atau babi. Sesaji lainnya berupa buah-buahan apel, pisang raja, dan pir. Minuman arak juga ikut di deretan sesaji itu.
“Setelah didoakan bersama keluarga, kami lalu melempar koin. Kalau koinnya jatuhterbalik, berarti sesaji itu sudah dimakan oleh para arwah,” ucapnya.
Lalu pada malam harinya, Jimmy mengadakan acara kumpul bersama keluarga untuk makan malam. Jimmy yang beragama Konghucu ini sebelum makan bersama juga berdoa dengan menggunakan dupa hanya di rumahnya.
Dia mengatakan pagi harinya, bagi yang punya keluarga masih belum menikah, mereka akan sungkem kepada orang tuanya. Dan anak-anaknya akan diberi angpau. Setelah itu dilanjut dengan kegiatan bersih kubur, yakni membersihkan makam nenek dan kakek keluarga mereka.
“Karena anak-anak saya ada di Jakarta dan tidak pada pulang, jadi saya hanya merayakan Imlek bersama istri,” ucap Jimmy.
Ia mengatakan kalau di Tiongkok Imlek berarti merayakan datangnya musim semi. Adapun Jimmy emaknai Imlek sebagai kedatangan tahun baru. Doa-doa yang dipanjatkan Jimmy adalah dioa pengharapan agar tahun ini diberikan kesehatan, keselamatan dan kemakmuran. “Harapannya tahun kelinci ini bisa memberi rejeki dan pengharapan yang lebih baik lagi,” tegasnya..