Pengungsi Merapi Yogyakarta
Ngene Iki Rasane Ra Duwe Omah…
Heni Yuli istiani ( 20) menjual compact disk (CD) soal erupsi Merapi untuk mendapatkan uang.
“CD-nya CD-nya...dibeli.. dibeli..." kalimat itu diucapkan Heni Yuli istiani ( 20) setiap ada orang yang mengunjungi kawasan bencana Merapi, Sabtu (18/12/2010).
IA menjual compact disk (CD) soal erupsi Merapi untuk mendapatkan uang. Saat ia menawarkan CD, ibunya menjual makanan kecil dan minuman di sampingnya. Sedangkan suaminya menggendong Dini Martamaharani, anak semata wayangnya yang masih berumur sembilan bulan.
Warga Pangukrejo Umbulharjo, Cangkringan, Sleman itu berusaha bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. "Saya sudah pasrah. Sekarang ini yang penting masih bisa nyari nafkah untuk anak saya," kata istri Triyono (22) itu
Ia sudah merasa jenuh setelah hampir dua bulan tinggal di pengungsian Balai Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Perempuan yang sebelum bencana Merapi bekerja sebagai peternak sapi tersebut ingin segera bisa memiliki rumah baru lagi. Janji rumah hunian sementara yang dikabarkan juga tidak kunjung selesai.
"Ngene iki rasane dadi wong ra duwe omah (begini ini rasanya orang yang tidak punya rumah)....." sahut Sri Wahyuningsih, ibu Hani yang ketika itu sedang menunggui makanan ringan yang dijajakannya.
Keluarga Heni sekarang sudah tidak punya harta benda lagi. Tujuh sapi miliknya mati terkena awan panas Merapi. Dia mampu mengumpulkan Rp 1,5 juta per bulan dari hasil menjual susu sapi. Saat ini ia mampu mendapatkan Rp 50 ribu per hari dari aktivitas berdagang CD erupsi Merapi.
Heni mengaku belum bisa berfikir soal kehidipannya di masa mendatang. "Surat-surat penting saya, misalnya surat tanah, surat nikah, akte kelahira, dan ijazah sekolah juga sudah terbakar,” katanya.