Advertorial

DP3AP2 DIY Gelar Sosialisasi Kesetaraan Gender untuk Masyarakat

Dirinya menegaskan agar keluarga agar lebih memahami bagaimana arti kesetaraan dan keadilan gender pada keluarga.

DP3AP2 DIY Gelar Sosialisasi Kesetaraan Gender untuk Masyarakat
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto
Sosialisasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk, Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai kesetaraan gender, di balai Desa Bedoyo, Gunungkidul, Jumat (15/3/2019). 

Laporan Reporter Tribunjogja Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM,GUNUNGKIDUL - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk, Daerah Istimewa Yogyakarta (DP3AP2 DIY) gelar sosialisasi pemahaman gender untuk masyarakat di Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Jumat (15/3/2019).

Kepala Seksi Informasi Data Gender dan Kerjasama, DP3AP2 DIY, Arif Nasirudin mengatakan, sosialisasi tersebut berlatar belakang dari data yang didapat yaitu masih banyaknya kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam lingkup keluarga, perubahan yang terjadi dalam keluarga, kehamilan usia remaja, dan perkawinan usia remaja.

"Dari data tersebut memperlihatkan bahwa permasahan terbanyak adalah di keluarga, yang kedua latar belakang diadakan sosialisasi ini adalah untuk mensosialisaikan kepada desa yang saat ini sudah mendapatkan dana desa untuk mengalokasikan dana desa untuk keperluan menambah partisipasi masyarakat dalam pembangunan," katanya.

Baca: Wujudkan Kesetaraan Gender, Kota Magelang Dapat Penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya

Lanjutnya dua hal tersebut yang menjadikan latar belakang sosialisasi tersebut, dirinya menegaskan agar keluarga agar lebih memahami bagaimana arti kesetaraan dan keadilan gender pada keluarga.

Yang kedua, pihaknya mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan penganggaran di desa.

"Masyarakat banyak yang belum memahami konsep gender, dalam prakteknya dilapangan hal-hal yang berkaitan dengan kesetaraan gender sudah dilakukan oleh masyarakat," jelasnya.

Pihaknya berharap adanya perubahan sosial di lingkup keluarga baru mengharuskan keluarga beradaptasi dan harus memiliki pemahaman yang berbeda dibanding dengan pemahaman generasi lalu.

Baca: Responsif Gender, Yogyakarta Sabet Anugerah Parahita Ekapraya

"Selain itu kami juga mendorong untuk merubah perspektif terutama bagi laki-laki agar ramah terhadap perempuan," ucapnya.

Dirinya juga menyoroti masih minimnya dana desa yang digunakan dalam kegiatan pemberdayaan perempuan, selama ini desa masih fokus dalam pembangunan fisik.

Satu diantara warga Surubendo, Desa Bedoyo Eriyanto menuturkan perspektif gender menurut orang awam adalah konsep penyetaraan antara laki-laki dengan perempuan.

"Mungkin itu pemahaman awal dari kami, kalau untuk kesejahteraan gender khususnya untuk keluarga bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama khususnya dalam lingkup keluarga," katanya.

Baca: Pemkab Sleman Meluncurkan Sistem Informasi Data Gender dan Anak

Selanjutnya dirinya menambhakan peran tersebut yang dimaksud adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun dalam berorganisasi dalam masyarakat.

"Dalam keluarga kami tidak membedakan perempuan maupun laki-laki tetap terutama anak laki-laki maupun perempuan tetap memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan. Kalau untuk istri yang bekerja untuk membantu suami tidak masalah karena itu sesuai dengan cita-cita Kartini," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved