Yogyakarta

Lestarikan Ketoprak dan Sandiwara Bahasa Jawa pada Generasi Milenial

Para seniman pun akan mengembangkan ketoprak yang bersifat kekinian namun tidak menghilangkan esensi dari pertunjukan ini.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ari Nugroho
Dok Ardian
Ilustrasi: Minak Jingga Nagih Janji, Pentas Drama Kethoprak Perdana Karang Taruna Desa Petir, Sabtu (28/1/2017) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketoprak dan sandiwara bahasa Jawa terus dilestarikan di DIY dengan beragam cara.

Diantaranya, para seniman pun akan mengembangkan ketoprak yang bersifat kekinian namun tidak menghilangkan esensi dari pertunjukan ini.

“Perlu dilakukan reformasi sosial ketoprak, sebagai fungsi cerdas dalam mewujudkan seni produk lokal tradisi kerakyatan kekinian. Kita akan mewujudkan seni ketoprak yang bersifat kekinian, tetapi tidak kehilangan jati diri ketoprak itu sendiri, khususnya tradisi ketoprak Mataram,” jelas penulis naskah dan pelaku seni ketoprak Bondan Nusantara dalam dialog budaya yang digelar oleh Dishub DIY, Senin (11/3/2019).

Baca: Finalis Puteri Indonesia Dibekali Pengetahuan Politik dan Anti-Hoaks

Menurut Bondan, bersama Kelompok Seniman Ketoprak, pihaknya berusaha membuat seni ketoprak menjadi sajian komodofikasi yang berkualitas, dan bernafaskan Yogyakarta.

Dengan begitu, seni kethoprak dapat menjadi pertunjukan utama masyarakat di luar DIY, bahkan hingga masyarakat dunia.

Baca: Pelestarian Aksara dan Bahasa Jawa Bisa Disesuaikan Perkembangan IT

“Untuk mewujudkan hal itu, akan dilakukan workshop tingkatan dan workshop bersifat edukasi, serta literasi yang khususnya ditujukan kepada generasi millennial,” urainya.

Dalam dialog budaya ini para pelaku program seni budaya Radio Bahasa Jawa pun turut bergabung.

Bergabungnya komunitas ini bertujuan sebagai penyegaraan kebahasaan, dalam rangka bagian dari upaya peningkatan kebahasaan.

Keinginan mereka cukup sederhana, yakni menampung bahasa anak muda Jawa masa kini untuk diekspresikan melalui sandiwara radio.

“Ini semua untuk kepentingan kita bersama tentang terkikisnya penggunaan bahasa Jawa sehari-hari. Jadi alangkah baiknya jika kita segera bersiap untuk anak-anak muda dan pelajar,” ujarnya.

Baca: Pusat Studi Aksara dan Bahasa Jawa Didorong Bisa Terbentuk di DIY

Pemerhati Sastra Jawa, Setya Amrih Prasojo sebelumnya juga mendorong pusat studi aksara dan bahasa Jawa bisa terbentuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Keberadaan pusat studi aksara dan bahasa Jawa ini bisa menjadi rujukan materi dan meneguhkan keistimewaan DIY.

Menurutnya, predikat orang di luar Yogya, Yogya menjadi pusat studi aksara heterogen dan tidak hanya untuk pusat studi aksara jawa.

Menurutnya, jika ada pusat studi aksara dan bahasa Jawa, maka akan memudahkan para pihak untuk tempat rujukan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved