Yogyakarta

Peringatan Serangan Umum 1 Maret ke-70 Akan Digelar Meriah, Hadirkan Habib Lutfi dan Habib Syekh

Peringatan Serangan Umum 1 Maret ke-70 Akan Digelar Meriah, Hadirkan Habib Lutfi dan Habib Syekh

Peringatan Serangan Umum 1 Maret ke-70 Akan Digelar Meriah, Hadirkan Habib Lutfi dan Habib Syekh
net
Monumen Serangan Umum 1 Maret 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM - Kabid Sejarah Dinas Kebudayaan DIY,  Erlina Hidayati Sumardi  juga menyampaikan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY bersepakat dengan Korem 072/Pmk untuk bekerja sama melaksanakan peringatan Serangan Umum 1 Maret ke 70 tahun ini secara bersama-sama agar dapat dilaksanakan dengan besar.

"Kami juga berharap dapat menjadi agenda nasional bahkan peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 ini seharusnya dapat dijadikan menjadi hari besar Nasional seperti yang diharapkan oleh para pelaku sejarah," katanya.

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada acara peringatan Serangan Umum 1 Maret tahun ini adalah, Bersih-bersih tetenger, Seminar 70 tahun Serangan Umum 1 Maret 1949, Pameran Foto dan Buku, malam tirakatan, Upacara dan ziarah/tabur bunga di Taman makam pahlawan ( TMP Kusuma Negara, Makam Pahlawan Somanggala), Teatrikal SO 1 Maret 1949 dan Pameran Alutsista TNI/Polri , pengajian akbar yang akan menghadirkan Habib Lufti dari Pekalongan dan Habib Syekh dengan mengambil tema Yogyakarta bersholawat.

Baca: Kadinsos DIY Berharap Serangan Umum 1 Maret dan HKSN Diperingati Serentak Nasional

Erlina menambahkan suksesnya Serangan Umum 1 Maret 1949 karena bersatunya Rakyat Yogyakarta, TNI dan Kraton Yogyakarta. Sehingga pada peringatan ke 70 Serangan Umum ini banyak pihak yang ingin berkolaborasi dalam kegiatan peringatan ini.

Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi mengusulkan peringatan serangan umum 1 Maret bisa menjadi hari besar nasional. Selain itu, hari kesetiakawanan sosial nasional (HKSN) yang diperingati tanggal 20 Desember juga perlu dijadikan hari besar nasional.

“Peran Yogyakarta sangat besar dalam sejarah berdirinya NKRI. Mengapa, peringatan serangan umum 1 Maret ini tidak dijadikan hari besar nasional,” katanya, Senin (18/2/2019).

Untung menjelaskan, peranan Yogyakarta tak terelakkan dalam mengusir penjajah di negara ini. Walaupun hanya dilaksanakan selama 6 jam saja, namun serangan oemoem satu Maret dapat membuka mata dunia dan membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI – Negara Republik Indonesia masih ada dan cukup kuat.

Baca: Pokdarwis Gua Pindul Rencanakan Kembangkan Edupark untuk Antisipasi Penurunan Pengunjung

Sehingga, dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda.

“Ini juga membuktikan pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan,” urainya.

Selain itu, Untung juga mengatakan, HKSN juga seharusnya menjadi hari besar nasional. Hal ini agar pesan sosial nasional perwujudan budaya nusantara yakni gotong royong bisa digaungkan. Keputusan ini pun bukan hanya sekadar melalui keputusan menteri (Kepmen) namun juga Keputusan Presiden (Keppres).

“Muncul hari-hari besar nasional yang lain tetapi mengapa HKSN dan Serangan 1 Maret belum jadi hari besar nasional. Ini perlu intervensi politis dan saya sampaikan pada saat kunjungan kerja komisi 8 DPR beberapa waktu lalu,” urainya. (tribunjogja)
 

Penulis: ais
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved