Bahowi, Imam Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman
KH Bahowi, Imam Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Minomartani, Sleman tampak bugar meski sudah berusia uzur.
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – KH Bahowi, Imam Masjid Pathok Negoro Plosokuning, Minomartani, Sleman tampak bugar meski sudah berusia uzur.
Saat ditemui Tribun Jogja, ia mengenakan peci putih, kaos putih, serta sarung berwarna krem-hitam.
Bahowi, lelaki berputra delapan ini, merupakan kelahiran tahun 1922.
Di usia 96 tahun, ia mengaku tidak terlalu kesulitan dalam menjalani aktivitas, terlebih lagi dalam bertindak sebagai Imam Masjid Pathok Negoro Plosokuning.
Bahowi memang kelihatan lincah, hanya saja punggungnya sudah agak membungkuk.
“Pendengaran saya agak kurang, omongnya nanti agak keras ya,” kata Bahowi kepada Tribunjogja.com, Selasa (27/2/2018).
Baca: Masjid Ploso Kuning Berdiri Sebelum Keraton Yogyakarta
Bahowi mengungkapkan, sudah 30 tahun dirinya menjadi imam masjid dan sempat selama 41 tahun menjadi Kepala Dukuh Plosokuning IV.
Saat masih muda, Bahowi sempat bergabung ke Laskar Penjaga Keamanan Desa di tahun 1945.
Kemudian, selama satu tahun, ia pernah menjadi bawahannya Letkol Soeharto.
“Saya bergabung di Pasukan Bregada 10 Bataliyon Letkol Soeharto,” cerita Bahowi.
Pada tahun 1950, ketika pulang ke rumah orangtua angkatnya, ayahnya menangis mengetahui ia telah menjadi tentara.
“Pas saya jadi tentara, orangtua sudah tua, saya pulang pakai pakaian tentara, ayah menangis, kalau kamu jadi tentara, siapa mengurus saya,” kata Bahowi menirukan perkataan ayahnya.
Baca: Pembersihan Masjid Pathok Negoro Plosokuning Sleman oleh Driver Go-Jek Disambut Positif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/bahowi-imam-masjid-pathok-negoro-plosokuning_20180227_230500.jpg)