Home »

DIY

Begini Caranya Polda DIY Menekan Klitih

AKBP Yuliyanto mengatakan hal ini adalah bentuk kegiatan yang bersinergi.

Begini Caranya Polda DIY Menekan Klitih
tribratanewsjogja.com
Mapolda DIY 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X menyampaikan pidato sambutan atau pertama setelah dilantik untuk periode 2017-2022 di depan sidang paripurna istimewa DPRD DIY, Senin (16/10/2017).

Salah satu bahasannya adalah tentang penyelenggaraan urusan ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, dalam hal ini adalah pencegahan tawuran pelajar dan klitih.

Secara terpisah Polda DIY melalui Kabid Humas AKBP Yuliyanto mengatakan pihaknya siap bekerjasama dengan pemerintah untuk memberantas aksi klitih yang banyak dilakukan oleh kalangan pelajar.

Sejauh ini pihaknya telah banyak melakukan koordinasi, terkhusus dengan Disdikpora DIY.

Baca: Atasi Tawuran dan Klitih Masuk Prioritas Sultan Lima Tahun Kedepan

"Kami terus bekerjasama dengan Disdikpora untuk mengatasi masalah klitih. Misal dengan menggelar forum diskus group (FGD) dan banyak ikrar untuk menyerukan pelajar melawan klitih," jelasnya, Senin sore.

AKBP Yuliyanto mengatakan hal ini adalah bentuk kegiatan yang bersinergi.

Tak hanya polisi sebagai penegak hukum saja yang berusaha memberantas klitih, tapi harus dibantu oleh kerjasama dari pemerintahan untuk melakukan bentuk-bentuk pencegahan.

Namun demikian, sejauh ini pihak kepolisian juga secara umum juga telah melakukan tindakan preventif (pencegahan), preemptif (sosialisasi) dan represif (penindakan).

"Kami tegas dalam melakukan penindakan. Bila terbukti bersalah, walaupun di bawah umur, tetap akan menjalani proses banyak. Kan sudah banyak contohnya," terangnya.

Adapun dengan ancaman hukuman di atas tujuh tahun penjara, maka tersangka yang masih di bawah umur pun tetap dapat diproses hukum.

Dari data kepolisian yang telah dibahas dalam Seminar Kemitraan dengan Tema Strategi Mewujudkan Jogja Bebas Klitih, di DPRD DIY beberapa bulan lalu, hasil identifikasi dari para pelaku klitih adalah semua pelaku menggunakan sepeda motor, suka nongkrong bersama geng, serta membawa senjata misalkan clurit, parang, gear dengan alasan itu untuk alat menjaga diri.

Para pelaku klitih rata-rata adalah anak yang memang memiliki masalah di sekolahnya, dan tergabung dalam sebuah geng.

Adapun geng sekolah paling banyak berada di Kota Yogyakarta dengan 35 geng, disusul Kab Sleman 27 geng, Kab Bantul 15 geng, Kab Kulonprogo 2 geng, dan Kab Gunungkidul 2 geng.

Sementara untuk jumlah kasus klitih di DIY pada 2016 mencapai 43 kasus, sedangkan di tahun 2017 sampai bulan maret sudah mencapai 22 kasus.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: nto
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help