Resapan Alami Masih Terjaga, DIY Dinilai Aman dari Ancaman Banjir
Kepala DLHK DIY, Kusno Wibowo, memastikan wilayah DIY masih memiliki sistem resapan alami yang memadai untuk meminimalkan risiko banjir.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Banjir besar yang baru-baru ini melanda Bali menjadi peringatan akan pentingnya kawasan resapan air. Namun, kondisi berbeda ditunjukkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, memastikan wilayah ini masih memiliki sistem resapan alami yang memadai untuk meminimalkan risiko banjir.
Menurut Kusno, daya dukung lingkungan Yogyakarta relatif baik. Kondisi tata air yang masih terjaga memungkinkan air hujan terserap dengan baik, sehingga potensi banjir besar dapat ditekan.
“Kalau di Jogja, kalau kita melihat kondisinya, peresapan air masih cukup baik. Resapan kita cukup memadai dan tersebar dari Gunung Merapi sampai ke pantai. Jadi selama kawasan itu tetap dijaga, insyaallah kondisinya aman,” ujar Kusno.
Ia menuturkan, dalam regulasi daerah terdapat lima kawasan utama yang tercatat sebagai kawasan resapan. Namun, menurutnya fungsi resapan tidak hanya terbatas pada kawasan tersebut.
“Memang ada lima kawasan resapan yang tercantum dalam aturan, tapi sebenarnya seluruh wilayah DIY adalah kawasan resapan. Asalkan tidak ditimbun atau dibangun secara masif, fungsi resapannya tetap berjalan,” jelasnya.
Baca juga: Habis Tugas Amankan Demo, Pak Kapolsek Brangsong Malah Masuk ke Rumah Janda, Akhirnya Digrebek Warga
Meski secara alami cukup aman, pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi. DLHK DIY mulai mendorong program normalisasi sungai, terutama di kawasan perkotaan yang rawan genangan akibat kepadatan permukiman.
“Yang sudah mulai normalisasi adalah Kota Yogyakarta. Sleman dan wilayah lain belum, tapi mudah-mudahan kondisinya masih aman. Tentunya dengan banyak pertimbangan, tapi rencana normalisasi tetap ada,” terang Kusno.
Upaya normalisasi di kabupaten lain, lanjutnya, akan dijalankan secara bertahap sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Prinsipnya, pemeliharaan kawasan resapan alami menjadi kunci utama agar DIY tidak menghadapi peristiwa serupa seperti yang terjadi di Bali.
“Kalau kita melihat kondisi di Jogja, masih aman. Selama kawasan resapan tidak terganggu oleh aktivitas pembangunan yang merusak, insyaallah bisa terjaga,” tegas Kusno. (*)
| Aktivitas Gunung Merapi Jumat 8 Mei 2026 Pagi Ini: Terpantau Ada 34 kali Gempa Guguran |
|
|---|
| Aktivitas Gunung Merapi Kamis 7 Mei 2026 Pagi: Teramati 5 Kali Guguran Lava, Jarak Luncur 2000 Meter |
|
|---|
| Aktivitas Gunung Merapi Rabu 6 Mei 2026 Pagi: Teramati 13 Kali Guguran Lava |
|
|---|
| Aktivitas Gunung Merapi Selasa 5 Mei 2026 Pagi: Ada 16 Kali Guguran Lava dalam 6 Jam Terakhir |
|
|---|
| 11 Rumah Terdampak Banjir Bandang di Grabag, Bupati Magelang Pastikan Penanganan Cepat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Marrel-Suryokusumo-Sebut-Lingkungan-di-DIY-dalam-Ancaman-Perlu-Dukungan-Akar-Rumput.jpg)