5 Fakta Mengapa Santorini Berwarna Putih-Biru

Pemerintah saat itu memerintahkan warga untuk memutihkan rumah mereka dengan kapur karena kapur mengandung bahan desinfektan alami.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
pinterest.com/WandressaLifestyle
Bukan Cuma Biar Estetik, Ini 5 Fakta Mengapa Santorini Berwarna Putih-Biru 

TRIBUNJOGJA.COM - Kalau diminta membayangkan Santorini, pikiran kita pasti langsung tertuju pada deretan bangunan putih bersih dengan kubah biru yang kontras dengan langit.

Pemandangan ini seolah sudah menjadi "seragam resmi" pariwisata Yunani. Namun, percayalah bahwa ribuan tahun lalu, Santorini tidak terlihat seperti ini.

Bukan karena permintaan agen travel atau biar terlihat bagus di kamera, pilihan warna ikonik ini lahir dari kombinasi wabah penyakit, kebijakan diktator, hingga cara unik warga bertahan dari panas yang menyengat.

1. Kapur sebagai "Senjata" Melawan Wabah

Jauh sebelum ada cat tembok modern, warga Santorini menggunakan kapur (lime) untuk melapisi rumah mereka. Pada tahun 1938, Yunani dilanda wabah kolera yang mengerikan.

Pemerintah saat itu memerintahkan warga untuk memutihkan rumah mereka dengan kapur karena kapur mengandung bahan desinfektan alami.

Jadi, warna putih yang kita puja sekarang sebenarnya adalah sisa-sisa dari upaya sanitasi massal untuk menghentikan kuman.

2. Strategi di Musim Panas

Kepulauan Cyclades punya satu musuh utama: matahari yang luar biasa terik.

Karena kayu dan bahan bangunan lainnya sulit didapat, warga membangun rumah dari batu vulkanik yang gelap.

Masalahnya, batu gelap menyerap panas. Dengan mengecat dinding menjadi putih, sinar matahari pun terpantul.

Hasilnya? Interior rumah tetap sejuk meskipun di luar sedang "membara". Ini adalah teknologi ramah lingkungan jauh sebelum istilah itu populer.

3. Kenapa Harus Biru? Semua Karena "Sabun Cuci"

Banyak yang mengira warna biru dipilih untuk menyamai warna laut. Padahal, alasan aslinya jauh lebih ekonomis.

Warga kelas pekerja di Santorini menggunakan bubuk pembersih bernama Loulaki (semacam nila untuk mencuci baju agar putihnya cemerlang).

Bubuk ini murah dan mudah ditemukan di setiap rumah. Ketika dicampur dengan kapur, Loulaki menghasilkan warna biru cerah yang kini kita lihat di kubah-kubah gereja.

4. Titah Sang Diktator

Sejarah warna ini juga punya sisi politis. Pada masa kediktatoran Loannis Metaxas tahun 1930-an, keseragaman warna putih dan biru diwajibkan untuk menciptakan kesan ketertiban dan harmoni di seluruh kepulauan Yunani

Mexatas ingin menghilangkan kesan kumuh dan memberikan citra bangsa yang bersih dan terorganisir kepada dunia luar.

5. Simbol Nasionalisme yang Menjadi Hukum

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved