Jasmine Ashadiya, Karateka Cilik Jogja Raih Perak dan Perunggu di Silent Knight Malaysia

Usianya baru menginjak 11 tahun, namun Jasmine Ashadiya Gunarto telah menunjukkan determinasi baja di atas matras tatami.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Karate cilik Jasmine Ashadiya Gunarto (11) menunjukkan medali perak dan perunggu yang diraihnya dalam ajang 15th Silent Knight International Karate 2026 di Malaysia saat ditemui di Sandfish Karate Academy, Sleman, Selasa (21/4/2026). 

Bernaung di bawah Sandfish Karate Academy, Jasmine berlatih 11 kali dalam sepekan. Hari istirahatnya hanyalah hari Minggu dan Rabu sore. Sisanya adalah dedikasi murni.

"Senin sama hari lainnya itu pagi, jam 4 udah bangun, setengah 5 udah berangkat ke sini, karena rumah kami kan 15 km dari sini (Timoho). Jam 5 mulai latihan sampai jam 7, setelah itu dia mandi di sini, baru sekolah, balik lagi ke Sapen. Itu sesi pagi. Terus dia pulang sekolah setengah 3, jam setengah 4 nanti udah harus berangkat lagi ke sini. Latihan jam 4 sampai jam 6, terus pulang. Ya itu rutinitas seharian kayak gitu," jelas Arjunadi.

Tidak hanya soal fisik, nutrisi dan sport science juga diterapkan secara ketat. Mengingat ia turun di kelas Kumite dengan sistem batas berat badan minus, Jasmine juga harus disiplin mengatur pola makan. 

Untuk pemulihan otot di tengah intensitas latihan yang tinggi, Jasmine rutin menjalani ice bath (berendam es) sebulan atau dua bulan sekali. 

Pelatihnya pun sangat analitis, menggunakan training log untuk merancang program latihan khusus yang disesuaikan dengan target peak performance di tiap kejuaraan.

Bagi Jasmine, kompetisi bukanlah sekadar tentang mengumpulkan medali. Darah bela diri yang mengalir dari sang ayah dan mengikuti jejak kakak laki-lakinya, Thoriq, telah membentuk mentalitasnya.

Menghadapi lawan dari luar negeri dengan gaya kidal pun tak membuatnya gentar.

"Kalau menang itu senang. Tapi kalau enggak ya dijadikan pelajaran. Jadi bisa lebih baik lagi ke depannya," kata Jasmine.

Kini, dengan bekal medali dari Malaysia dan evaluasi taktik internasional yang direkam cermat oleh kedua orang tuanya, Jasmine bersiap kembali ke rutinitas. Ia tidak ingin buru-buru memburu sabuk hitam, melainkan memilih menikmati proses berjenjang. 

Terdekat, ia akan turun di ajang O2SN tingkat SD dan berambisi untuk menambah penguasaan jurus Katanya menjadi lima hingga enam dari ratusan variasi yang ada di dunia Karate.

Perjalanan Jasmine menjadi bukti bahwa peran krusial orang tua di pinggir lapangan, kedisiplinan yang ditempa dan keberanian menerima kekalahan adalah medali emas yang sesungguhnya dalam pembentukan karakter seorang atlet sejati. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved