‘Delirium’, Ledakan Emosi The Troublemaker tentang Kesehatan Mental

Di tengah geliat musik independen Yogyakarta, band punk The Troublemaker kembali merilis karya terbaru mereka bertajuk Delirium.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/IST
Band punk asal Jogja The Troublemaker. 
Ringkasan Berita:
  • Band punk The Troublemaker kembali merilis single terbaru mereka bertajuk Delirium di tengah geliat musik independen Yogyakarta.
  • Ini menjadi lanjutan perjalanan band yang baru terbentuk pada 2023, namun sejak awal sudah menunjukkan arah musikal yang tegas, yakni punk yang enerjik sekaligus personal.
  • Grup yang digawangi Ardhana atau Alex (gitar dan vokal), Aga (bass), Bangkit (lead gitar), dan Gesang (drum) ini lahir dari pertemanan dan kesamaan selera musik

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah geliat musik independen Yogyakarta, band punk The Troublemaker kembali merilis karya terbaru mereka bertajuk Delirium.

Single ini menjadi lanjutan perjalanan band yang baru terbentuk pada 2023, namun sejak awal sudah menunjukkan arah musikal yang tegas, yakni punk yang enerjik sekaligus personal.

Band yang digawangi Ardhana atau Alex (gitar dan vokal), Aga (bass), Bangkit (lead gitar), dan Gesang (drum) ini lahir dari pertemanan dan kesamaan selera musik

Awalnya hanya sebatas sesi jamming, hingga akhirnya berkembang menjadi proyek serius dengan identitas yang semakin kuat.

Nama The Troublemaker sendiri dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol keberanian untuk menyuarakan hal-hal yang kerap dianggap tabu.

Dalam rilisan terbarunya, The Troublemaker mengangkat tema yang kini semakin dekat dengan kehidupan anak muda, yakni kesehatan mental. 

Namun alih-alih mengemasnya secara lembut, mereka justru memilih pendekatan yang lebih lugas dan emosional.

“Lagu ‘Delirium’ berawal dari keresahan pribadi yang kemudian dikembangkan bersama menjadi sebuah karya kolektif,” ujar Ardhana.

Ia menjelaskan, ide awal lagu ini muncul dari pengalaman overthinking dan tekanan mental yang kemudian diterjemahkan ke dalam lirik dan aransemen yang intens. 

Judul “Delirium” sendiri merujuk pada kondisi ketika seseorang merasa kehilangan kendali atas pikirannya, terjebak dalam kecemasan dan ketakutan yang sulit dijelaskan.

Proses kreatif

Proses kreatif lagu ini terbilang cepat. Dalam waktu sekitar satu minggu, ide dasar yang digagas Ardhana berkembang menjadi komposisi utuh melalui eksplorasi bersama seluruh personel. 

Proses rekaman pun berlangsung singkat, sekitar enam jam di studio, namun tetap menjaga energi mentah khas musik mereka.

“Emosi yang ingin disampaikan adalah rasa cemas, lelah, dan tertekan, tapi juga ada harapan untuk bisa keluar dari kondisi tersebut,” katanya.

Secara musikal, The Troublemaker masih berpijak pada akar punk yang dipengaruhi band-band seperti Ramones, Rancid, hingga Green Day. 

Namun mereka mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda melalui pendekatan lirik yang lebih reflektif dan dekat dengan pengalaman personal.

Isu kesehatan mental sendiri dipilih bukan sekadar mengikuti tren. Bagi mereka, tema ini memang hadir dari pengalaman nyata dan keresahan yang dirasakan sehari-hari. 

Di tengah semakin terbukanya pembahasan soal kesehatan mental, mereka melihat masih ada ruang yang belum sepenuhnya terisi, terutama dalam medium musik punk.

“Pesan yang ingin disampaikan adalah: kalian tidak sendirian. Apa pun yang sedang dirasakan itu valid, dan penting untuk mencari bantuan atau setidaknya berbagi cerita dengan teman terdekat,” ujar Ardhana.

Melalui “Delirium”, The Troublemaker mencoba menghadirkan ruang ekspresi bagi mereka yang mungkin sulit mengungkapkan apa yang dirasakan. 

Lagu ini sudah dapat didengarkan di berbagai platform digital sejak 8 April 2026, sekaligus menjadi penanda bahwa punk, bagi mereka, bukan hanya soal energi, tetapi juga kejujuran dalam bercerita.
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved