‘Pulung’, Kolaborasi Instrumental Tiga Bassist Lintas Generasi

Diambil dari bahasa Jawa, kata ‘Pulung’ secara filosofis dimaknai sebagai bintang jatuh atau cahaya yang melambangkan keberuntungan besar

Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Pulung’, sebuah komposisi instrumental yang digagas oleh Baiu Progress dan Dibya Imam Prasetya 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah arus musik populer yang kerap menempatkan bass sebagai instrumen pendukung, sebuah karya baru justru hadir dengan pendekatan berbeda.

Lewat bahasa instrumental yang intim dan personal, tiga bassist dari lintas generasi bertemu dalam satu ruang kreatif untuk berbagi cerita tanpa kata, tanpa ego, dan tanpa agenda besar selain kejujuran rasa.

Karya itu berjudul ‘Pulung’, sebuah komposisi instrumental yang digagas oleh Baiu Progress dan Dibya Imam Prasetya, dengan keterlibatan spesial dari bassist legendaris Indonesia, Bintang Indrianto.

Pertemuan ini tidak hanya mempertemukan teknik dan pengalaman, tetapi juga menyatukan memori, rindu, dan perjalanan musikal yang panjang.

Diambil dari bahasa Jawa, kata ‘Pulung’ secara filosofis dimaknai sebagai bintang jatuh atau cahaya yang melambangkan anugerah serta keberuntungan besar.

Bagi Baiu dan Dibya, judul tersebut merepresentasikan proses kreatif yang mereka jalani bersama sosok yang selama ini mereka kagumi. 

“Kami merasa mendapatkan rezeki nomplok, sebuah ‘pulung’ karena bisa berkolaborasi dengan Mas Bintang Indrianto. Ini adalah keberuntungan yang tidak semua orang bisa dapatkan,” ujar Baiu Progress.

Lahirnya ‘Pulung’ tidak berangkat dari perencanaan bisnis atau kesepakatan formal. Karya ini justru tercipta dari undangan sederhana yang dilandasi rasa kangen antar sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu.

Baca juga: Hasil Terawangan Rival Indigo Soal Lokasi Syafiq di Gunung Slamet, Sebut Tertutup Alam Gaib

Berangkat dari ikatan almamater kampus yang sama, pertemuan tersebut berkembang menjadi ruang temu kangen, saling berbagi kabar, hingga akhirnya sepakat untuk menciptakan sesuatu yang jujur dan apa adanya.

Proses kreatifnya mengalir tanpa beban. ‘Pulung’ menjadi persembahan tulus untuk merayakan pertemuan sekaligus menyimpan kenangan sebelum masing masing kembali ke rutinitas.

Kepolosan dan ketulusan inilah yang diyakini menjadi pintu datangnya ‘pulung’ sebagai anugerah, yang membuat karya ini memiliki kedalaman emosi yang kuat.

Secara musikal, ‘Pulung’ menawarkan warna yang segar di ranah musik instrumental Indonesia.

Bass ditempatkan sebagai pusat narasi, menghadirkan dialog antar instrumen yang saling menyahut dan membangun cerita. 

“Karya ini membuktikan bahwa bass bukan sekadar instrumen pengiring, melainkan mampu bercerita dengan sangat artikulatif dan emosional.”

Kolaborasi ini juga menjadi pertemuan penting dengan Bintang Indrianto, sosok yang dikenal luas sebagai pionir dan referensi utama bass Indonesia.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved