Mengubah Energi Remaja Menjadi Aksi Spiritual di Masjid

Masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat menjalankan ibadah saja, namun bertransformasi menjadi benteng pertahanan bagi generasi muda

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Ustadz Handy Bonny saat menyampaikan ceramah dan diskusi dengan para remaja masjid Al Ikhlas, Minggu (22/2/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Masjid Al-Ikhlas Kotagede menjadi benteng penangkal kenakalan remaja melalui program Kampung Ramadhan Karangsari yang inklusif dan relevan bagi anak muda.
  • Mengusung tema "Jangan Takut Tidak Keren", kajian ini mengajak remaja tetap religius tanpa kehilangan identitas diri, kreativitas, maupun ruang ekspresi modern.
  • Melalui komunitas Rismail dan GACM, generasi muda diposisikan sebagai subjek utama penggerak ekosistem masjid agar lebih cinta ibadah dan memiliki lingkungan positif.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat menjalankan ibadah saja, namun bertransformasi menjadi benteng pertahanan bagi generasi muda di tengah riuhnya godaan kenakalan remaja.

Sepanjang Ramadan, deretan kajian intensif sengaja digelar untuk merangkul para remaja, mengubah energi berlebih mereka menjadi aksi sosial dan pendalaman spiritual yang bermakna.

Seperti yang dilaksanakan di Masjid Al-Ikhlas Karangsari Kulon, Kotagede, Kota Yogyakarta ini.

Pada Minggu (22/2/2026) kemarin, puluhan remaja mengikuti talk show dan kajian Ramadan bersama Ustadz Handy Bonny

Kajian yang mengusung tema Jangan Takut Tidak Keren itu sangat relevan menyikapi perkembangan mental remaja saat ini.

Pembina Gerakan Anak Cinta Masjid (GACM) Masjid Al Ikhlas Karangsari Kulon, Hj Ninoek Sriyani mengatakan kegiatan ini merupakan  bagian dari rangkaian program Kampung Ramadhan Karangsari (KRK).

"Kegiatan bersama Ustadz Handy Bonny adalah bagian dari program KRK yang secara konsisten menghadirkan dakwah yang komunikatif, inklusif, dan relevan bagi generasi muda," ujar Ninoek Sriyani didampingi Pembina Masjid Al Ikhlas, H Moch Arief Toto Rahardjo di sela acara.

Menurutnya tema yang diangkat sangat cocok untuk menyikapi fenomena yang banyak terjadi di kalangan remaja saat ini.

Dimana masih ada anggapan bahwa menjadi pribadi yang taat beragama itu identik dengan sesuatu yang kaku, membatasi ekspresi, dan tidak selaras dengan gaya hidup modern. 

Padahal, menurut Ninoek nilai-nilai Islam tidak pernah membatasi kreativitas atau potensi seseorang. 

"Justru Islam memberi arah agar setiap aktivitas, gaya, dan pilihan hidup tetap memiliki nilai dan tujuan. Menjadi muslim yang taat bukan berarti kehilangan identitas diri atau ruang berekspresi. Kita bisa tetap tampil baik, aktif, produktif, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan, selama berada dalam koridor ajaran yang benar,” katanya.

Melalui pendekatan dakwah yang komunikatif dan dekat dengan dunia anak muda, kehadiran Ustadz Handy Bonny diharapkan dapat memberikan perspektif baru bahwa religiusitas dan aktualisasi diri dapat berjalan seiring secara harmonis. 

Dijelaskan, sebagai masjid dengan tata kelola program yang terstruktur, Masjid Al-Ikhlas aktif mengembangkan berbagai kegiatan pembinaan umat, di antaranya pengajian rutin ibu-ibu, Gerakan Cinta Masjid, program buka bersama setiap Senin dan Kamis, serta berbagai kegiatan pemberdayaan jamaah berbasis komunitas. 

Diungkapkan, salah satu ciri khas Masjid Al-Ikhlas adalah penguatan peran remaja masjid yang tergabung dalam Remaja Islam Masjid Al-Ikhlas (Rismail) berperan aktif sebagai penggerak kegiatan Program GACM serta penyelenggara KRK.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved