Tim Riset Berbagai Kampus Gelar Pertemuan di UAD, Evaluasi Program Mahasiswa Berdampak 2025

Kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama UAD.

Tayang:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/dok. Istimewa
Para tim riset berbagai kampus melakukan evaluasi program Mahasiswa Berdampak 2025 serta memaparkan program penelitian baru 2026, di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para tim riset terbaik dari berbagai kampus berkumpul di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadiri 
Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 berlangsung selama tiga hari, 5–7 Juni 2026.

Kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama UAD.

Fokus seminar dampak ini salah satunya mengevaluasi pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak 2025 yang telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp30 miliar untuk ratusan proyek pengabdian dan inovasi mahasiswa di berbagai daerah. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diseminasi hasil program, tetapi juga ruang evaluasi untuk mengukur manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dari berbagai inovasi yang dijalankan mahasiswa bersama dosen pendamping.

Sebanyak 60 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi hadir untuk memaparkan hasil kegiatan sekaligus menjelaskan perubahan yang terjadi di masyarakat mitra setelah program dijalankan.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan Program Mahasiswa Berdampak dirancang untuk mendorong mahasiswa menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, keberadaan jutaan mahasiswa di Indonesia merupakan potensi besar yang dapat menghubungkan hasil riset dan inovasi kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.

“Kita memiliki sekitar sepuluh juta mahasiswa di perguruan tinggi. Mereka adalah ujung tombak bagaimana masyarakat dapat merasakan manfaat dari inovasi, hasil riset, dan pemikiran yang lahir dari kampus. Karena itu, sesuatu yang dibangun dari mahasiswa dan oleh mahasiswa merupakan motor penting dalam menghadirkan dampak nyata bagi negeri,” katanya.

Dia menuturkan salah satu kekuatan utama Program Mahasiswa Berdampak terletak pada kolaborasi lintas disiplin ilmu atau collective intelligence.

Baca juga: Pengamat UGM: Ganti Kepala BGN Saja Tak Cukup, Sistem Harus Dibenahi

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan bekerja bersama untuk mengidentifikasi persoalan sosial berdasarkan data lapangan sekaligus membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Tercatat sebanyak 957 proposal diajukan oleh perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.

Setelah melalui proses seleksi dan kurasi, sebanyak 263 proposal dinyatakan lolos dan memperoleh bantuan pendanaan dengan total nilai mencapai Rp30,1 miliar.

Program tersebut melibatkan 199 perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. 

“Kami ingin mengukur bukan hanya aspek administratif dan teknis, tetapi sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan perubahan, kapasitas lokal tumbuh, dan ilmu pengetahuan maupun teknologi berkembang di komunitas,” tambah Fauzan.

Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Sunardi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Kemdiktisaintek kepada UAD sebagai tuan rumah kegiatan nasional tersebut.

Menurutnya, semangat Program Mahasiswa Berdampak sejalan dengan visi perguruan tinggi yang ingin memastikan hasil penelitian dan pengabdian masyarakat tidak berhenti di lingkungan kampus.

“Harapannya, penelitian dan pengabdian yang dilakukan tidak hanya bermanfaat bagi kampus atau penelitinya saja, tetapi benar-benar memberikan maslahat dan dampak yang dirasakan masyarakat. Program seperti ini menunjukkan bagaimana inovasi dan pengabdian dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat,” papar Sunardi.

Sementara Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana.

Dia menjelaskan seminar tersebut menjadi bagian penting dari proses evaluasi karena Program Mahasiswa Berdampak baru pertama kali dilaksanakan pada 2025.

Menurut Ketut, terdapat tiga indikator utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program, yakni dampak akademik, dampak sosial, dan dampak ekonomi.

Dia menegaskan keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya bertujuan memberikan pengalaman belajar.

“Tetapi juga harus mampu menghasilkan perubahan positif, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta mendukung peningkatan kesejahteraan ekonomi warga setempat,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved