Ketika Naskah Teater Membongkar Trauma Sosial: Membaca Eunoia Karya Whani Darmawan

Whani Darmawan mengungkapkan bahwa naskah Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee selesai ditulis pada 24 Juni 2024.

Tayang:
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Almurfi Syofyan
BEDAG BUKU: Bedah buku Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee karya Whani Darmawan dan kawan-kawan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Selasa (10/3/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Universitas Sanata Dharma menggelar bincang buku Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee karya Whani Darmawan di Yogyakarta.
  • Diskusi menghadirkan pembahas Zuhdi Zang dan Indro Suprobo serta dilengkapi dramatic reading oleh para seniman teater.
  • Pembahas menilai karya itu melanjutkan tradisi drama modern Indonesia dengan mengangkat tema kemiskinan, trauma sosial, dan refleksi kehidupan manusia.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Program Studi S2 Kajian Budaya dan S3 Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma menggelar bincang buku Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee karya Whani Darmawan dan kawan-kawan di Selasar Aula Gedung Sasana Mitraswara, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Selasa (10/3/2026).

Acara yang berlangsung pukul 15.00–18.00 WIB itu bekerja sama dengan Omah Kreatif Art Turah. Buku yang dibahas merupakan cetakan pertama yang terbit pada Januari 2026 oleh Penerbit Tonggak Pustaka, Yogyakarta.

Diskusi menghadirkan dua pembahas, yakni mahasiswa S3 Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, Zuhdi Zang, serta Direktur Tonggak Pustaka, Indro Suprobo. Percakapan dipandu oleh Nisa Ramadani, mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma.

Diskusi diperkaya dramatic reading

Selain diskusi, suasana acara juga diperkaya dengan dramatic reading oleh sejumlah seniman teater. Indah Ayu Setyawati dan Yogi Swara Manitis Aji dari Solo, bersama Achmad Dipoyono, dosen Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, membacakan bagian-bagian dari naskah lakon tersebut. Pembacaan itu menghadirkan nuansa dramatik yang membuat teks terasa hidup di hadapan para peserta.

Ketua Program Studi S2 Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma (USD), Dr. Yustina Devi Ardhiani, mengatakan kegiatan ini bertujuan menjembatani dunia akademik dengan praktik seni.

Menurutnya, forum semacam ini menjadi ruang pertemuan antara dosen, mahasiswa, seniman, serta para peminat sastra dan seni pertunjukan untuk mendialogkan karya dengan realitas sosial yang lebih luas.

“Melalui diskusi ini diharapkan muncul pemahaman yang lebih mendalam mengenai relasi antara karya seni, praktik kebudayaan, dan dinamika sosial yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga diharapkan menghasilkan dokumentasi proses serta hasil diskusi yang relevan dengan isu-isu kebudayaan kontemporer. Dokumentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kompetensi praktis dosen, seniman, maupun mahasiswa dalam bidang kajian budaya dan seni.

Lebih jauh, Yustina menegaskan bahwa kampus tidak boleh terpisah dari realitas yang hidup di masyarakat.

“Kami tidak ingin kampus menjadi menara gading. Kami tidak ingin apa yang dibahas di dalam kampus justru jauh dari kehidupan nyata. Karena itu, kerja sama dengan komunitas seni seperti ini akan terus kami upayakan,” katanya.

Awalnya naskah pertunjukan teater

Sementara itu, Whani Darmawan mengungkapkan bahwa naskah Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee selesai ditulis pada 24 Juni 2024.

Awalnya, naskah tersebut direncanakan untuk diproduksi sebagai pertunjukan teater pada 2025 dengan Sugeng Muardi Murhariyadi atau Sugeng Yeah sebagai produser. Namun rencana tersebut batal setelah muncul kebijakan efisiensi anggaran yang membuat sejumlah donatur menarik dukungan.

“Kami sebenarnya sudah bersiap memproduksinya. Tapi setelah kebijakan efisiensi itu, banyak donatur yang bertiarap. Akhirnya saya bilang ke Pak Yeah, tidak usah diproduksi tidak apa-apa,” kenang Whani.

Sejak saat itu, ia mulai memikirkan cara agar gagasan dalam naskah tersebut tetap dapat bertemu dengan publik meskipun tidak dipentaskan.

Upaya itu sempat difasilitasi di Solo. Namun rencana tersebut kembali tertunda karena kondisi kesehatan sang produser yang kemudian wafat tepat pada waktu yang seharusnya menjadi jadwal pementasan.

“Semoga Pak Yeah damai dan tenteram di surga,” ujar Whani lirih.

Ingin gagasannya menemui banyak orang

Whani juga sempat menerima tawaran untuk meluncurkan buku tersebut di Taman Budaya Jawa Tengah atau Rumah Banjarsari. Namun tawaran itu ia tolak.

Menurutnya, jika diskusi hanya berlangsung di ruang komunitas teater, maka percakapan tentang naskah itu akan berhenti di lingkaran yang sama.

“Buat apa sebuah naskah lakon kalau yang memperbincangkan hanya orang-orang teater sendiri. Saya ingin cerita ini menemui banyak orang, dimiliki oleh banyak orang baik temanya, ceritanya, atau gagasannya,” kata dia.

Whani mengaku menulis naskah tersebut secara intuitif tanpa menyusun sinopsis maupun kerangka cerita secara sistematis. Ide cerita justru berawal dari dialog yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

“Saya awalnya menulis sebagai cerpen. Tapi dialognya begitu padat di kepala, akhirnya saya meninggalkan narasi dan langsung menulis dialog sampai selesai,” ungkapnya.

Ia bahkan baru memahami makna simbol-simbol dalam naskah itu setelah tulisan tersebut rampung. Salah satunya adalah penggunaan “mobil” sebagai properti dalam cerita.

“Saya baru sadar setelah naskah itu jadi. Mobil itu bisa berarti mobile, gerak, aktivitas, bahkan seperti roller coaster kehidupan,” ujarnya.

Lanjutan tradisi drama modern Indonesia

Sementara itu, Zuhdi Zang yang membedah buku tersebut menilai naskah itu memiliki posisi menarik dalam tradisi drama modern Indonesia.

Menurutnya, karya tersebut tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai drama absurd, meskipun memiliki sejumlah elemen yang mengingatkan pada tradisi teater modern Eropa seperti Samuel Beckett atau Eugene Lonesco.

“Bagi saya naskah ini justru cukup jelas. Secara gagasan, ini seperti langkah lanjut dari tradisi drama modern Indonesia yang pernah ditulis Arifin C. Noer, Putu Wijaya, atau Iwan Simatupang,” katanya.

Zuhdi melihat naskah ini mencoba meramu kegelisahan realisme sosial dengan refleksi eksistensial tentang manusia. Ia bahkan menyebut karya tersebut memiliki kedekatan dengan karya-karya seperti Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C. Noer maupun Petang di Taman karya Iwan Simatupang.

Namun menurutnya, ada hal yang cukup khas dalam naskah Whani, terutama dalam cara mengangkat persoalan kemiskinan dan trauma sosial.

Kemiskinan lahirkan trauma

Ia menilai kemiskinan dalam naskah tersebut tidak hanya hadir sebagai kondisi sosial, tetapi juga sebagai pengalaman personal yang melahirkan trauma.

“Kemiskinan di sini bukan sekadar takdir. Kemiskinan itu struktur. Dan ketika kemiskinan diproduksi oleh struktur, ia melahirkan trauma yang pada akhirnya memunculkan ironi dalam kehidupan manusia,” ujarnya.

Trauma sosial itulah, lanjut Zuhdi, yang sering memunculkan berbagai bentuk kontradiksi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kemunafikan atau hipokrisi.

Ia menambahkan, dalam perspektif psikoanalisis, manusia pada dasarnya lahir dalam kondisi normal sebelum kemudian dibentuk oleh lingkungan sosialnya.

“Dalam psikoanalisis, manusia itu lahir normal sebelum kemudian keluarga dan masyarakat membentuknya menjadi ‘edan’,” kata Zuhdi.

Dialog internal manusia

Sementara itu, Direktur Tonggak Pustaka, Indro Suprobo melihat naskah tersebut memiliki kedalaman dialog yang mengingatkannya pada kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, khususnya Kitab Keluaran tentang panggilan Nabi Musa.

Menurutnya, dialog antara tokoh Slavee dan Si Bajingan dalam naskah itu memiliki kemiripan dengan percakapan antara Musa dan Yahweh.

“Kisah Musa itu mungkin tidak pernah terjadi secara harfiah. Tetapi dialog itu mencerminkan realitas yang konkret tentang bagaimana seseorang menemukan panggilan hidupnya,” kata Indro.

Ia menilai percakapan dalam naskah tersebut dapat dibaca sebagai dialog internal manusia yang sedang berhenti sejenak untuk merefleksikan pengalaman hidupnya.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved