4 Novel Indonesia Bertema Sejarah yang Mengangkat Luka Perempuan
Berikut 4 rekomendasi novel yang mengangkat luka perempuan dengan latar sejarah yang kelam.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Beberapa hari setelah mengantar anak terakhirnya ke dunia, Dewi Ayu meninggal.
21 Tahun kemudian setelah dikuburkan, Si Cantik bangkit dari kematiannya untuk menguak kutukan dan tragedi keluarganya.
Hal itu disebabkan seluruh anak-anaknya mendapatkan kesialan yang tak kunjung berhenti.
Novel cantik ini membalut realita sejarah dengan alur fantasi, magis, dan horror yang ikut menghidupkan cerita.
Kritik sosial yang diusung mengenai kecantikan, perempuan sebagai pemuas nafsu, kekerasan, dan politik juga meningkatkan kompleksitas cerita.
Meskipun cerita ini fiktif, tetapi kejadian dan latar sejarah yang disediakan berdasarkan kenyataan.
2. Ronggeng Dukuh Paruk
Ronggeng Dukuh Paruk (2003) merupakan novel pertama dari trilogy karya Ahmad Tohari. Dua judul lainnya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala.
Novel ini mengisahkan Dukuh Paruk berlatar 1960-an dengan kondisinya terpencil.
Para penduduk miskin, melarat, terbelakang, memelihara kebodohan serta senang bermalas-malasan.
Pada desa ini terdapat budaya yang menjadi ciri khas, yakni ronggeng.
Ronggeng adalah jenis tari tradisional Indonesia yang dilakukan oleh penari wanita menggunakan selendang.
Bagi pedukuhan yang terasing itu, ronggeng adalah pelambang dan jati diri dukuh.
Oleh karena itu, Srintil sebagai calon penari ronggeng, tokoh utama yang diceritakan sangat cantik dan menggoda dengan segera menjadi terkenal.
Sebelum resmi menjadi ronggeng, Srintil harus melakukan upacara adat dan ritual Bukak Klambu, yaitu sayembara mendapatkan keperawanan calon ronggeng.
Saat polemik politik tahun 1965 terjadi, seketika membuat Dukuh Paruk hancur, baik secara fisik atau mental.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kumpulan-buku-sejarah-tentang-perempuan.jpg)