UKDW Yogyakarta Berdayakan Komunitas Difabel SAPADIFA Lewat Pelatihan Batik dan Kerajinan Tangan
Tim Pengabdi Masyarakat dari UKDW Yogyakarta menggelar kegiatan pemberdayaan bagi komunitas difabel di LKS SAPADIFA
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL — Tim Pengabdi Masyarakat dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menggelar kegiatan pemberdayaan bagi komunitas difabel di Lembaga Kesejahteraan Sosial Sahabat Pemerhati Difabel (LKS SAPADIFA), Karang Tengah, Imogiri, Kabupaten Bantul.
Kegiatan ini berfokus pada peningkatan kapasitas produksi batik dan kerajinan tangan, serta penguatan identitas lokal melalui pendekatan desain dan pemasaran partisipatif.
SAPADIFA merupakan lembaga sosial yang aktif mendampingi penyandang disabilitas dan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) pasca-gempa 2006 di wilayah Imogiri.
Berkantor di Kalurahan Karang Tengah, komunitas ini berupaya menciptakan kemandirian anggotanya melalui berbagai pelatihan dan akses layanan dasar.
Dalam kerja sama dengan UKDW, komunitas ini bertekad meningkatkan keterampilan dan kualitas hidup para anggotanya melalui kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.
Kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop pada 27 September 2025, yang dipandu oleh Paulus Bawole dan Kristian Ismartaya dari Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW.
FGD diikuti oleh 32 partisipan, termasuk pengrajin SAPADIFA, perwakilan LPPM UKDW, serta Ketua Unit Layanan Disabilitas UKDW. Diskusi mendalam ini menggali tantangan yang dihadapi komunitas, baik dari aspek produksi maupun pemasaran.
Salah satu fokus utama adalah pengembangan stasiun kerja dan alat bantu ergonomis untuk proses batik cap, khususnya bagi anggota difabel netra.
Alat tepat guna ini merupakan hasil pengembangan dosen dan mahasiswa Program Studi Desain Produk UKDW.
Prototipe alat tersebut dirancang untuk mempermudah dan meningkatkan keselamatan proses membatik. Spesifikasi akhir akan ditentukan melalui diskusi dan uji coba bersama pengguna dalam sesi FGD lanjutan dan workshop mendatang.
Dari sisi pemasaran, tantangan terbesar adalah kurangnya pemahaman terkait strategi bisnis modern. Sebagian besar peserta FGD mengaku belum pernah mengenal Business Model Canvas (BMC) atau konsep brand storytelling.
Workshop yang difasilitasi oleh Rossalina Christanti dari Fakultas Bisnis UKDW membekali peserta dengan pengetahuan dasar pengembangan merek dan membangun narasi produk yang kuat.
Komunitas SAPADIFA memiliki harapan besar untuk mengubah pendekatan konsumen dari sekadar empati menjadi value-based purchasing , produk dibeli karena kualitas, keunikan, dan nilai seni yang terkandung di dalamnya.
Dalam sesi workshop yang dipandu oleh Winta Tridhatu Satwikasanti dari Fakultas Arsitektur dan Desain, peserta diajak mengeksplorasi pengetahuan lokal untuk membentuk identitas visual batik khas SAPADIFA.
Bersama komunitas, dilakukan eksplorasi visual melalui bentuk-bentuk geometris dan organik yang terinspirasi dari lingkungan sekitar, seperti perbukitan, embung, dan situs reliji di wilayah Karang Tengah.
| UKDW Kembali Torehkan Prestasi Nasional melalui Program P2MW 2026 |
|
|---|
| Media Tour Menyusuri Denyut Kehidupan Desa Sentra Batik Kayu di Bantul Binaan Astra |
|
|---|
| Batik Tulis Terancam Tekstil Printing Impor, Regenerasi Perancang Motif Mendesak Dilakukan |
|
|---|
| Angkat Motif Elang Jawa, PSS Sleman dan Rianty Batik Resmi Luncurkan Koleksi Kolaborasi |
|
|---|
| Bukan SPG, Tahun Ini Mutiara Eva Farm Berdayakan Difabel Jadi Sales Kambing Kurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/UKDW-Yogyakarta-Berdayakan-Komunitas-Difabel-SAPADIFA-Lewat-Pelatihan-Batik-dan-Kerajinan-Tangan.jpg)