Quiet Covering, Quitting, & Firing: Ragam Istilah Dunia Kerja Gen Z

Pernah dengar istilah quiet covering, quiet quitting, atau quiet firing di dunia kerja? Istilah ini encerminkan realita dunia kerja masa kini yang

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
freepik
Ilustrasi Gen Z sedang bekerja, beberapa istilah viral di dunia kerja quiet covering, quiet quitting, atau quiet firing (Freepik) 

TRIBUNJOGJA.COM-Pernah dengar istilah quiet covering, quiet quitting, atau quiet firing di dunia kerja?

Mungkin terdengar asing atau sedikit “berat”, tapi faktanya fenomena ini sedang ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan Gen Z.

Mulai dari karyawan yang menahan diri agar terlihat profesional, menetapkan batas dalam bekerja, hingga strategi diam-diam dari perusahaan untuk menekan karyawan.

Semua ini sebenarnya mencerminkan realita dunia kerja masa kini yang tidak hanya seputar tugas, tetapi juga kesehatan mental dan kenyamanan saat bekerja.

Artikel ini akan membahas satu per satu istilah tersebut agar lebih mudah dimengerti

Quiet Covering, Menyembunyikan Identitas Pribadi di Tempat Kerja

Istilah quiet covering ini belum lama muncul.

Melansir dari Forbes, quiet covering adalah kecenderungan karyawan menyembunyikan aspek pribadi agar tidak dihakimi, terhindar dari stereotip, dan terlihat lebih profesional.

Istilah ini sejatinya pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Kenji Yoshino, yang menjelaskan bahwa praktik ini dilakukan agar karyawan diterima, terhindar dari diskriminasi, dan mempertahankan pekerjaan.

Survei Attensi yang dikutip dari Kompas.com juga menunjukkan bahwa 58 persen responden melakukan skill masking, dan 40 persen enggan meminta bantuan meski membutuhkan.

Generasi Z dua kali lebih sering melakukan quiet covering dibanding generasi Boomer, bahkan 56 persen melakukannya saat berbicara dengan HR.

Beberapa hal yang kerap disembunyikan meliputi masalah kesehatan mental, kebiasaan perawatan diri khusus, atau pengalaman pribadi yang dianggap menghambat promosi.

Efek dari quiet covering cukup signifikan, seperti stres sedang hingga berat, menurunkan produktivitas, membatasi kreativitas, dan menurunkan keterlibatan kerja.

Quiet Quitting, Bekerja Seperlunya Saja

Berbeda dengan quiet covering, quiet quitting bukan berhenti dari pekerjaan, melainkan menetapkan batas.

Mengutip laman Harvard Business Review , karyawan tetap menyelesaikan tugas yang menjadi kewajibannya.

Tetapi, tidak lagi terlibat secara emosional atau memberikan kontribusi di luar ekspektasi dasar, seperti lembur tanpa kompensasi atau proyek tambahan tanpa adanya reward.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved