Cerita Elita Dapat Beasiswa LPDP di 6 Kampus Top Dunia

Meski ia terlahir dari kalangan tak mampu dan bukan keluarga akademisi, ia memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan tinggi

Tayang:
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
BEASISWA: Elita Yunanda, perempuan kelahiran 14 September 1990 ini berhasil mendapatkan beasiswa LPDP di enam kampus top dunia. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Elita Yunanda, perempuan kelahiran 14 September 1990 ini berhasil mendapatkan beasiswa LPDP di enam kampus top dunia. 

Keberhasilannya ini bukan melalui proses yang mudah, melainkan penuh pengorbanan dan perjuangan.

Elita adalah anak pertama dari dua bersaudara yang lahir dari keluarga kurang mampu. 

Masa kecilnya dihabiskan di rumah berdinding bambu, di sebuah kampung padat penduduk di tengah Kota Yogyakarta.

Meski ia terlahir dari kalangan tak mampu dan bukan keluarga akademisi, ia memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikannya setinggi mungkin. 

Di setiap jenjang pendidikannya, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan baik dari pemerintah maupun dari swasta, bahkan individu. 

Tak dipungkiri, ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata dibandingkan dengan teman-teman tempat ia tinggal.

Saat ini, Elita tengah menempuh pendidikan magisternya di Master of Public Administration in Development Practice (MPA-DP), Columbia University, New York, Amerika Serikat. 

Ia berangkat ke negeri Paman Sam pada awal Agustus tahun 2025.

"Saya mulai kuliah perdana tanggal 2 September, sebelumnya mengikuti orientasi dulu pada 18 Agustus dengan teman-teman lainnya," katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (15/9/2025). 

Diceritakan Elita, mimpi untuk sekolah di luar negeri ini harus ditunda lebih dari 10 tahun. 

Bukan tanpa alasan, ia ingin membantu perekonomian keluarga terlebih dahulu dan membiayai adiknya untuk mendapatkan pendidikan paling tidak hingga lulus sarjana. 

"Waktu kuliah jurusan Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta tahun 2013, saya kerja di event organizer Yogya. Kemudian jadi Public Relations (PR) Consultant juga sebelum pindah ke Jakarta," ungkapnya. 

Setelah pindah ke Jakarta, pada tahun 2017-2021 ia bekerja sebagai Senior Communication and Public Relations, British Council. 

Kemudian pada tahun ⁠2021-2025, ia menjadi Communication and Event Expert, Communication and Visibility for European Union (EU) for Association of Southeast Asia Nations (ASEAN) Project.

"Pada bulan Oktober 2024 sampai Agustus 2025 jadi Communication and Event Consultant for Southeast Asia Regional Program on Combating Marine Plastics (MaP) Project yang didanai oleh PBB dan World Bank,” jelasnya. 

Selain diterima di Columbia University atau yang tergabung di kampus Ivy League, Elita juga diterima di 5 universitas ternama dunia.

Kelima universitas tersebut yakni ⁠New York University (NYU) jurusan Master of Public Administration in Public and Nonprofit Management and Policy, London School of Economics and Political Science (LSE) in Master of Public Administration (MPA), University of Bristol, Master of Public Policy, University of Glasgow, Master of Public Policy and Management dan Erasmus Mundus Master's in Public Policy (Mundus MAPP). 

"Kenapa pada akhirnya saya memilih Columbia University ya karena jurusannya lebih banyak praktek di bidang administrasi publik untuk pembangunan berkelanjutan. Selain itu, di kota New York opportunity-nya lebih luas di mana ada kantor utama PBB dan World Bank," ungkapnya. 

Meski tergolong terlambat melanjutkan pendidikan magisternya dengan beasiswa LPDP kerena batasan usia, namun ia merasa tak mempermasalahkannya. Menurutnya, pendidikan tidak terbatas oleh waktu dan usia. 

"Nggak ada kata terlambat menggapai mimpimu, terutama buat pendidikan," tandas mantan Dimas Diajeng Kota Jogja 2013 juara Harapan I, Dimas Diajeng DIY 2015 Top 15 dan ⁠Duta Wisata Indonesia Perwakilan DIY 2015 Top 10.

Elita menambahkan, prestasi ini sebagai bukti nyata bahwa pendidikan bisa digapai dengan berbagai cara asalkan punya kemauan dan tekad kuat. Ia ingin memutus rantai kemiskinan di keluarganya dan menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya. 

"Di keluarga saya, keluarga besar saya, saya yang pertama bisa menginjakkan kaki di luar negeri melalui pendidikan. Tujuan saya cuma satu, ingin memutus rantai kemiskinan mengingat bapak saya hanya lulus SD dan ibu lulusan SMP. Saya ingin mengangkat derajat orang tua," tegasnya. 

Dalam mempersiapkan pendidikan reguler magisternya di Columbia University, Elita mengambil kursus statistik, mikro ekonomi, dan makro ekonomi di Universitas Indonesia selama satu tahun di tengah kesibukan bekerjanya. Kursus ini diambil karena jurusan yang diambil tidak linier dengan pendidikan sarjananya.

"Saya ambil kursus di Universitas Indonesia selama setahun itu gratis, dari tahun 2022-2023 akhir. Sebenarnya saya keterima LPDP itu tahun 2023 tapi karena pekerjaan ditunda. LPDP punya dispensasi selama 18 bulan, nah baru tahun ini bisa berangkat," katanya. 

Elita menyadari bahwa ia bukan dari kalangan yang memiliki privilese untuk urusan pendidikan, apalagi di luar negeri. Karenanya, ia harus memilih jalur lain dengan beasiswa dan mempersiapkannya secara matang. 

Lewat ilmu yang didapatkan selama mengenyam pendidikan di Columbia University ini, ia ingin anak bangsa bisa mendapatkan manfaatnya setelah ia lulus nanti. Ia memiliki visi terutama dalam menyoroti diaspora Indonesia.

"Setelah lulus saya ingin berfokus pada kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan diaspora, pemuda, dan pekerja profesional Indonesia di luar negeri,” lanjutnya. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved