7 Fakta Unik tentang Hujan yang Jarang Diketahui Banyak Orang

Tahukah Anda? Ada banyak fakta unik lainnya, mulai dari bau hujan punya nama, hingga fenomena hujan di planet lain.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
PEXEL/FAIZAN
ILUSTRASI FOTO Cuaca Dingin, Suhu Dingin, Musim Dingin, Jalanan Setelah Hujan (Pexel/Faizan) 

TRIBUNJOGJA.COM- Akhir-akhir ini, beberapa wilayah di Indonesia masih diguyur hujan meskipun seharusnya sudah memasuki musim kemarau. 

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah hingga awal September 2025, sebuah fenomena yang menunjukkan betapa dinamisnya iklim di negara kita.

BMKG menjelaskan, hujan ringan hingga sedang masih turun di wilayah barat dan tengah Indonesia, sementara hujan sedang hingga lebat lebih dominan di wilayah timur.

Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) atau fluktuasi cuaca tropis skala besar, berupa pergerakan gugusan awan dan curah hujan ke arah timur di dekat khatulistiwa.

Juga diperngaruhi oleh gelombang atmosfer yang sedang aktif, serta suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya, sehingga pembentukan awan hujan meningkat.

Fenomena hujan memang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia.

Lebih dari sekadar turunnya air dari langit, tahukah Anda hujan menyimpan berbagai fakta menarik yang jarang diketahui. 

Mari kita selami lebih dalam rahasia di balik rintik hujan yang membawa kehidupan.

Fakta-Fakta Unik Tentang Hujan

1. Bau Hujan Memiliki Nama yang Indah

Pernahkah Anda mencium aroma khas yang muncul setelah hujan pertama turun membasahi tanah kering?

Bau segar ini memiliki nama ilmiah, yaitu petrichor.

Istilah tersebut diperkenalkan oleh ilmuwan Australia pada tahun 1964.

Aroma ini muncul karena adanya senyawa bernama geosmin, yang dihasilkan oleh bakteri tanah saat air hujan menyentuh permukaan kering.

Geosmin kemudian dilepaskan dalam bentuk aerosol dan terbawa angin, sehingga bisa tercium oleh indera penciuman manusia. 

2. Ada Berbagai Jenis Hujan

Hujan tidak selalu berbentuk tetesan air biasa.

Ada hujan gerimis yang halus, hujan lebat yang mengguyur deras, hingga hujan es yang terdiri dari butiran es padat.

Hujan es terjadi ketika tetesan air membeku di awan sebelum jatuh ke bumi akibat suhu yang sangat dingin.

Sementara itu, di wilayah dengan suhu beku, hujan bisa turun sebagai salju atau bahkan gerimis beku.

Perbedaan bentuk ini bergantung pada suhu udara dan kondisi atmosfer di sekitar awan.

3. Tidak Semua Awan dapat Menghasilkan Hujan

Fakta menarik lainnya, ternyata tidak semua awan bisa menurunkan hujan.

Awan kumulonimbus yang besar dan tebal lah biasanya menghasilkan hujan deras dan badai petir.

Sementara awan cirrus yang tipis dan berada di ketinggian lebih sering hanya menghasilkan mendung tanpa hujan.

Ada pula awan stratus yang menyebabkan gerimis ringan.

Jadi, meskipun langit terlihat berawan, belum tentu akan turun hujan.

4. Hujan Juga Ada di Planet Lain

Fenomena hujan ternyata bukan hanya ada di Bumi.

Beberapa planet lain di tata surya juga mengalaminya, meskipun dalam bentuk yang berbeda. 

Di Venus, misalnya, terjadi hujan asam sulfat yang sangat korosif.

Sedangkan di Titan, salah satu satelit Saturnus, turun hujan metana yang cair.

Fakta ini menunjukkan bahwa hujan adalah fenomena alam universal, meskipun komposisinya tidak selalu berupa air seperti di Bumi.

Baca juga: Mengenal 7 Jenis Hujan dan Proses Pembentukannya: Hujan Frontal hingga Buatan

5. Hujan Bisa Menguap Sebelum Menyentuh Tanah

Fenomena ini disebut hujan virga.

Tetesan hujan yang jatuh dari awan bisa menguap di udara sebelum mencapai permukaan bumi.

Terutama jika lapisan udara di bawah awan sangat kering. 

Hujan virga sering hanya terlihat seperti garis-garis putih di langit, tanpa pernah benar-benar membasahi tanah.

Hujan virga menjadi pertanda bahwa kondisi atmosfer di bawah awan sangat kering.

6. Bentuk Tetesan Hujan Bukan Seperti Air Mata

Selama ini, banyak orang membayangkan tetesan hujan berbentuk seperti air mata.

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), tetesan hujan kecil berbentuk bulat sempurna.

Sementara tetesan yang lebih besar berbentuk mirip roti hamburger atau bagian bawahnya rata. 

Jika ukurannya terlalu besar, tetesan tersebut akan pecah menjadi butiran yang lebih kecil, seperti tetesan yang terbelah saat jatuh dari ketinggian.

7. Hujan Bisa Memengaruhi Suasana Hati

Hujan sering dikaitkan dengan suasana hati manusia.

Bagi sebagian orang, suara rintik hujan memberikan efek tenang dan rileks.

Namun, ada juga yang merasa murung atau melankolis ketika hujan turun.

Hal ini terjadi karena berkurangnya paparan sinar matahari saat hujan, yang dapat memengaruhi produksi hormon serotonin di dalam tubuh.

Perubahan suasana hati ini dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD), meskipun efeknya bisa berbeda pada setiap orang.

Hujan bukan hanya sekadar air yang jatuh dari langit, tetapi sebuah fenomena alam yang menyimpan banyak fakta menarik

Di tengah kondisi cuaca Indonesia yang masih dipengaruhi hujan meskipun sudah memasuki musim kemarau, kita semakin menyadari bahwa hujan adalah bagian penting dari siklus kehidupan. 

(MG/Sabbih Fadhillah)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved