Serangan Sekecil Apapun Bakal Direspon Iran

Iran menegaskan siap untuk bertempur habis-habisan melawan Amerika Serikat.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Tasnim via Sputnik
Rudal Sejjil 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN Iran menegaskan siap untuk bertempur habis-habisan melawan Amerika Serikat.

Saat ini militer Iran menetapkan status siaga tinggi menyusul pengerahan besar-besaran armada militer Amerika Serikat (AS) ke kawasan Timur Tengah.

Seluruh bentuk serangan, termasuk serangan sekecil apapun akan direspon oleh militer.

Di tengah situasi yang meruncing, militer Iran juga sudah menyiapkan skenario terburuk untuk menghadap perang.

Dikutip dari Kompas.com, salah satu pejabat senior Iran yang tidak disebutkan namanya menegaskan militer Iran sudah menyiapkan skenario terburuk.

Militer Iran saat ini sudah menetapkan status siaga tinggi sebagai respon atas pengerahan armada AS ke Timur Tengah tersebut.

"Pengerahan militer ini, kami harap tidak dimaksudkan untuk konfrontasi nyata, tetapi militer kami siap untuk skenario terburuk. Inilah sebabnya mengapa semuanya dalam keadaan siaga tinggi di Iran," ujar pejabat yang berbicara dengan syarat anonim tersebut, sebagaimana dikutip dari The Independent, Sabtu (24/1/2026).

Pejabat itu juga menegaskan bahwa serangan sekecil apapun akan direspon oleh Iran.

“Kali ini kita akan menganggap setiap serangan, terbatas, tak terbatas, terarah, kinetik, apa pun sebutannya, sebagai perang habis-habisan melawan kita, dan kita akan merespons dengan cara sekeras mungkin untuk menyelesaikan ini,” sambungnya. 

Sebelumnya, armada laut AS dikabarkan berlayar menuju ke Timur Tengah.

Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak pendamping yang dilaporkan telah memasuki Samudra Hindia.  

Armada ini dijadwalkan tiba di Timur Tengah dalam hitungan hari.

Kehadiran kapal-kapal ini akan menambah kekuatan AS yang sebelumnya sudah menyiagakan tiga kapal tempur di Bahrain dan dua kapal perusak di Teluk Persia.  

Secara total, pengerahan ini membawa sekitar 5.700 personel militer tambahan ke kawasan tersebut.

Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/1/2026), membenarkan pergerakan armada tersebut, namun menyatakan harapannya agar kekuatan militer itu tidak perlu digunakan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved