Iran Siap Perang Jika Diintervensi Amerika Serikat

Pernyataan tegas muncul dari pejabat Iran tentang politik luar negeri mereka.

|
Editor: Joko Widiyarso
DOK. ncr-iran.org
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi 
Ringkasan Berita:
  • Pernyataan tegas muncul dari pejabat Iran tentang politik luar negeri mereka.
  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memastikan negaranya selalu siap untuk berperang jika ada intervensi negara lain.
  • Namun Abbas menegaskan bahwa negaranya tidak serta-merta ingin menempuh jalan perang, melainkan siap bernegosiasi. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN - Pernyataan tegas muncul dari pejabat Iran tentang politik luar negeri mereka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memastikan negaranya selalu siap untuk berperang jika ada intervensi negara lain.

Namun Abbas menegaskan bahwa negaranya tidak serta-merta ingin menempuh jalan perang, melainkan siap bernegosiasi. 

"Republik Islam Iran tidak mencari perang tetapi sepenuhnya siap untuk perang. Kami juga siap untuk bernegosiasi, tetapi negosiasi ini harus adil, dengan hak yang sama dan berdasarkan rasa saling menghormati," kata Abbas dikutip dari AFP via Kompas.com, Senin (12/12026). 

Pernyataan ini muncul di tengah ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berulang kali menyatakan akan turun tangan jika Iran melakukan tindakan keras terhadap demonstran. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei mengatakan, saluran komunikasi tetap terbuka antara Araghchi dan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

"Pesan dipertukarkan bila diperlukan," katanya. 

Ia menjelaskan, meskipun AS tidak memiliki perwakilan diplomatik di Iran, kepentingannya diwakili oleh kedutaan Swiss. 

Klaim Trump

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengeklaim, Teheran telah mengindikasikan kesediaannya untuk berdialog. 

"Para pemimpin Iran menelepon" kemarin, kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One. 

"Pertemuan sedang diatur. Mereka ingin bernegosiasi," sambungnya. 

Sebelumnya, Trump menyatakan mengecam tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang meluas di negara tersebut.

Trump menyebut para pemimpin Iran memerintah melalui kekerasan dan mengatakan Washington sedang mempertimbangkan “opsi-opsi yang sangat kuat” sebagai respons.

“Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer juga mempertimbangkannya, dan kami sedang melihat beberapa opsi yang sangat kuat,” kata Trump.

Demonstrasi Iran

Seperti diketahui, aksi protes selama lebih dari dua minggu ini awalnya dipicu oleh keluhan atas kondisi ekonomi Iran.

Namun, demo itu telah berubah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi sistem teokrasi yang telah memerintah Iran sejak revolusi Islam 1979. 

Sebagai tanda parahnya krisis ini, pihak berwenang telah memberlakukan pemadaman internet yang kini telah berlangsung lebih dari tiga hari. 

Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengatakan, mereka telah mengkonfirmasi kematian setidaknya 192 demonstran, tetapi jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. 

"Laporan yang belum diverifikasi menunjukkan bahwa setidaknya beberapa ratus, dan menurut beberapa sumber, lebih dari 2.000 orang mungkin telah tewas," kata IHR. 

IHR memperkirakan, lebih dari 2.600 demonstran telah ditangkap.

Sementara, kelompok oposisi Mujahidin Rakyat (MEK) yang dilarang di Iran menuturkan, menurut sumber mereka di dalam negeri, lebih dari 3.000 orang telah tewas. 

Media pemerintah Iran mengatakan, puluhan anggota pasukan keamanan telah tewas dan pemakaman mereka berubah menjadi demonstrasi besar-besaran pro-pemerintah. 

Media pemerintah berupaya keras untuk menampilkan gambaran kembalinya ketenangan, menyiarkan gambar lalu lintas yang lancar.  

Gubernur Teheran Mohammad-Sadegh Motamedian bersikeras dalam komentar yang disiarkan televisi bahwa jumlah demonstrasi menurun. Pemerintah telah menyatakan tiga hari berkabung nasional untuk para korban kerusuhan.

Akibat peluru tajam

Menurut Sky News, sebagian besar korban meninggal akibat tembakan peluru tajam dan peluru karet dari jarak dekat.

Pemerintah Iran sendiri sudah mematikan jaringan komunikasi di 31 provinsi.

Sementara berdasarkan tayangan televisi, puluhan kantong jenazah berada di kantor koroner.

Kemudian kerumunan orang berkumpul di luar Pusat Medis Forensik Kahrizak, menunggu untuk mengidentifikasi anggota keluarga mereka yang tewas.

Pemicu aksi protes

Aksi protes besar-besaran di Iran ini bermula dari melemahnya nilai mata uang rial.

Mata uang rial terus menurun sejak tiga minggu terakhir.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya buka suara terkait aksi protes yang melanda negaranya.

Dalam wawancara dengan media nasional yang terkait pemerintah, Pezeshkian menyebut bahwa aksi kekerasan di Iran dilakukan oleh oknum-oknum yang memiliki kaitan dengan kekuatan asing.

Ia menuding pihak-pihak tersebut membunuh warga sipil, membakar tempat ibadah, dan merusak fasilitas publik. 

“Musuh-musuh Iran sedang mencoba menabur kekacauan dan ketidaktertiban dengan memerintahkan kerusuhan,” ujar Pezeshkian.

Namun, ia juga menegaskan bahwa pemerintah siap mendengarkan suara rakyat dan berkomitmen menyelesaikan persoalan ekonomi yang menjadi pemicu keresahan.

Pezeshkian menyerukan agar masyarakat menjauh dari kelompok perusuh dan teroris, yang dianggapnya berusaha menghancurkan struktur masyarakat Iran.

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved