Dipicu Kecelakaan Lalu Lintas, Dua Suku di Papua Terlibat Perang, Belasan Tewas

Belasan orang tewas akibat perang Suku Hubla (Kurima) dan Suku Lanny di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
KOMPAS.com/FINDI RAKMENI
Rumah warga dibakar akibat perang suku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan 

Ringkasan Berita:
  • Perang suku antara Suku Hubla dan Suku Lanny di Wamena mengakibatkan 13 orang meninggal dunia, 20 luka-luka.
  • Bentrokan menyebabkan ratusan fasilitas hangus terbakar, termasuk 117 rumah, 63 honai, 8 ruko, 1 sekolah, 1 kantor desa, serta puluhan kendaraan roda dua dan empat.
  • Perang dipicu oleh ketidaksesuaian pembayaran denda adat atas kasus kecelakaan tahun 2024, yang kemudian memuncak setelah jembatan kelebihan beban putus pada 6 Mei 2026.

 

TRIBUNJOGJA.COM, JAYAPURA - Belasan orang tewas akibat perang Suku Hubla (Kurima) dan Suku Lanny di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Hingga Senin (18/5/2026) pagi, tercatat sebanyak 13 orang meninggal dunia.

Sementara korban lainnya tercatat belasan orang.

Data itu merupakan data yang dirilis oleh pihak kepolisian.

Suku Hubla (atau Hubula) adalah salah satu suku bangsa asli Papua yang mendiami wilayah Lembah Baliem dan sekitarnya, khususnya di Distrik Kurima, yang secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Yahukimo (namun secara adat dan geografis sangat dekat dan berbatasan langsung dengan Wamena, Kabupaten Jayawijaya), Provinsi Papua Pegunungan.

Sementara Suku Lanny (atau sering disebut juga Suku Lani) adalah salah satu suku bangsa asli terbesar yang mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Provinsi Papua Pegunungan.

Wilayah adat mereka berpusat di Kabupaten Lanny Jaya, namun populasi mereka juga tersebar luas di wilayah sekitarnya seperti Kabupaten Jayawijaya (Wamena), Tolikara, dan Puncak.

 "Update korban perang suku, tanggal 15 Mei ada dua korban meninggal dan 19 luka. Sementara di hari Sabtu ada 11 orang meninggal dan 1 terluka. Jadinya total meninggal 13 orang dan yang mengalami luka ada 20 orang," kata Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara dikutip dari Kompas.com.

Selain menimbulkan korban jiwa dan luka, kejadian itu juga menyebabkan ratusan rumah penduduk, gedung sekolah, kantor desa dan ruko hangus terbakar.

 "Untuk rumah yang dibakar 117 rumah, 63 Honai, kemudian ruko 8 unit, 1 bangunan sekolah, dan 1 kantor desa. Sementara kendaraan roda empat ada 48 unit dan roda dua 43 unit yang dibakar. Dari hasil olah TKP dan pendataan dilapangan seluruh bangunan dan kendaraan serta fasilitas umum sudah hangus terbakar, rusak berat, dan tidak dapat digunakan kembali," ungkapnya.

Baca juga: Dua Laka Tunggal Dilaporkan Terjadi di Kulon Progo, Satu Orang Meninggal Dunia

Kronologi

Perang suku antara Suku Hubla (Kurima) dan Suku Lanny pecah di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan pada Jumat (15/5/2026) pagi. 

Dua kelompok massa terlihat perang menggunakan busur dan panah, alat tajam serta saling lempar di sekitaran jalan Diponegoro dan Pasar Wouma, Kota Wamena. 

Kapolres Jayawijaya, AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, menerangkan bahwa perang suku ini dipicu pembayaran denda adat atas meninggalnya seorang anggota DPRD Lanny Jaya karena kecelakaan lalu lintas di Megapura, Distrik Asolokobal pada 17 Mei 2024.

Akibat lakalantas itu, warga dari Suku Lanny Jaya terlibat perang dengan kelompok masyarakat gabungan dari Distrik Kurima, Asotipo dan Asolokobal yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved