Keroncong Plesiran Bakal Digelar pada 13-14 Juni 2026 di Candi Prambanan

Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, perhelatan hiburan di Yogyakarta masih tetap eksis demi memanjakan para wisatawan.

Tayang:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/IST
JUMPA PERS - Penyelenggara Keroncong Plesiran saat menggelar jumpa pers festival musik keroncong di Yogyakarta, Rabu (10/6/2026). 

Tidak hanya itu, Kolaborasi Dagadu Djokdja, mengajak brand legendaris kebanggaan Jogja terlibat dalam perilisan official merchandise resmi edisi terbatas. 

Mengusung konsep Festival Ramah Keluarga, Keroncong Plesiran juga menyediakan Kids Area sebagai ruang bermain anak yang nyaman. 

Sebagai bentuk komitmen terhadap inklusivitas, anak-anak di bawah usia tujuh tahun dapat menikmati festival tanpa dikenakan biaya tiket masuk festival (gratis).

Perayaan satu dekade Keroncong Plesiran bukan hanya menghadirkan panggung musik yang lebih besar, tetapi juga merupakan Karya Baru dan Apresiasi untuk Legenda Keroncong Indonesia. 

Tahun ini penyelenggara juga merilis album kompilasi yang melibatkan 10 grup keroncong muda dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali hingga Sulawesi.

Album tersebut lahir dari kegelisahan bahwa musik keroncong sering kali hanya dikenal melalui lagu-lagu lama. 

Padahal hingga hari ini masih banyak kelompok keroncong yang menciptakan karya baru dan dimainkan oleh generasi muda.

Film dokumenter Waldjinah

Selain itu, Keroncong Plesiran juga menyiapkan film dokumenter dan katalog anotasi tentang Waldjinah. 

Menurut penyelenggara, dokumentasi semacam itu masih sangat terbatas, padahal Waldjinah merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah musik keroncong Indonesia.

"Kami harus ada selebrasi dan naik kelas. Selain itu kami juga pengen memberi apresiasi kepada Bu Waldjinah yang bukan hanya sekadar plakat. Keroncong harus tetap ada, berkembang dan dinikmati lintas generasi," tegas Ari Kancil, yang juga Arsitek Festival, Rabu (10/6/2026).

Di sisi lain pihaknya tidak menampik bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan penyelenggara acara di Yogyakarta

Kondisi ekonomi yang tidak menentu dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan berdampak langsung terhadap industri pertunjukan yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat.

Ari Kancil, mengakui situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri event. 

Di tengah menjamurnya berbagai festival dan konser hampir setiap akhir pekan, penyelenggara kini harus menghadapi ancaman baru berupa biaya operasional yang meningkat dan potensi menurunnya minat masyarakat untuk membeli tiket.

"Dengan kondisi seperti ini, dunia event memang banyak kendalanya. Apalagi sekarang event sangat masif. Hampir setiap Sabtu ada acara. Ditambah lagi kondisi daya beli masyarakat yang belum bagus," ujarnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved