35 Puisi Rindu dan Kenangan yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh

35 puisi rindu dan kehilangan yang membuka luka lama, tentang menunggu, relapse, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
pixabay
Ilustrasi anak yang sedih 

Aku menyimpan fotomu,
bukan untuk melihat.
Tapi untuk mengingatkan,
bahwa aku pernah bahagia.

Aku kehilangan bukan hanya kamu,
aku kehilangan versi diriku.
Yang percaya cinta selalu cukup,
untuk mengalahkan segalanya.

Aku berbicara pada sepi,
karena ia tidak menghakimi.
Ia hanya mendengar,
saat aku menyebut namamu lagi.

Aku rindu, tapi aku lelah.
Aku ingat, tapi aku sakit.
Di antara itu semua,
aku hanya bertahan.

Aku menunggu, meski tahu,
tidak semua yang ditunggu akan datang.
Tapi berhenti menunggu,
terasa seperti menyerah.

Aku kehilangan arah,
sejak kehilangan kamu.
Karena sebagian hidupku,
terbiasa berjalan bersamamu.

Aku belajar menerima,
tapi belum belajar ikhlas.
Karena ikhlas berarti,
tidak lagi berharap.

Aku menyimpan rindu di dadaku,
agar tidak tumpah ke mana-mana.
Tapi setiap malam,
ia tetap menemukan jalan keluar.

Aku pernah menjadi tempat pulangmu,
sekarang aku hanya kenangan.
Yang kadang muncul,
saat kau sedang lelah.

Aku merindukanmu dalam diam,
karena bersuara hanya menambah sakit.
Diam membuat luka tetap hidup,
tapi setidaknya tidak terlihat.

Aku kehilangan bukan hanya kamu,
tapi semua rencana kita.
Yang kini hanya daftar,
tentang hal-hal yang tidak jadi.

Aku berdamai dengan sepi,
tapi tidak dengan ingatan.
Karena ingatan selalu datang,
tanpa izin, tanpa peringatan.  (MG Agit Aida Musfiroh)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved