35 Puisi Rindu dan Kenangan yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh
35 puisi rindu dan kehilangan yang membuka luka lama, tentang menunggu, relapse, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Aku mengingatmu bukan karena ingin,
tapi karena kenangan tidak bertanya.
Ia datang kapan saja,
dan membuka luka yang sama.
Aku menunggu kabar,
bukan untuk kembali.
Hanya ingin tahu,
apakah kau juga pernah mengingatku.
Kita pernah saling menggenggam,
seolah dunia aman.
Sekarang aku menggenggam kenangan,
dan dunia terasa asing.
Aku lelah merindukan,
tapi lebih lelah melupakan.
Karena melupakanmu,
berarti menghapus sebagian diriku.
Aku bicara pada malam,
tentang hal-hal yang tak jadi.
Tentang kita yang seharusnya,
dan kenyataan yang terjadi.
Baca juga: 10 Puisi untuk Menemani Malam Hujan yang Sunyi dan Penuh Rindu
Kehilangan tidak selalu tentang pergi,
kadang tentang berubah.
Kau masih ada,
tapi bukan lagi milikku.
Aku mengingat caramu menatap,
tatapan teduh menenangkan.
Dan itu menyakitkan,
karena tatapanmu tetap yang sama.
Aku menyebut namamu pelan,
agar hatiku tidak terlalu ribut.
Tapi rindu selalu keras,
meski aku telah coba meredam.
Aku menunggu tanpa kepastian,
seperti hujan tanpa awan.
Datang tanpa peringatan,
pergi tanpa penjelasan.
Aku pernah menjadi rumahmu,
sekarang aku hanya alamat lama.
Yang kadang kau lewati,
tanpa ingin singgah.
Relapse ini bukan tentang cinta,
tapi tentang kebiasaan.
Hatiku terbiasa memikirkanmu,
bahkan saat aku lelah.
Aku kehilanganmu perlahan,
tanpa suara perpisahan.
Dan itu lebih menyakitkan,
karena aku tidak tahu sampai kapan.
Aku rindu bukan pada dirimu,
tapi pada kita yang dulu.
Yang percaya segalanya mungkin,
sebelum kenyataan mengajarkan luka.
Aku menunggu bukan karena bodoh,
tapi karena hatiku belum pulih.
Beberapa perpisahan,
tidak langsung sembuh.
Aku belajar tersenyum di depan orang,
dan menangis saat sendiri.
Karena rindu lebih jujur,
saat tidak ada seorangpun melihat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-seoarang-anak-sedih.jpg)