Mengenal Double Standard, Bias Gender yang Masih Mengakar di Kehidupan Modern
Meski zaman makin maju, standar ganda tetap ada. Artikel ini membahas mengapa hal itu terus terjadi dan apa dampaknya pada relasi sosial.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM- Pernahkah Anda merasa bahwa aturan yang berlaku untuk Anda berbeda dengan aturan untuk orang lain?
Mungkin Anda secara tidak sadar sedang menghadapi fenomena double standard, atau yang lebih dikenal sebagai standar ganda.
Kondisi ini terjadi ketika prinsip, aturan, atau penilaian yang seharusnya sama justru diterapkan secara berbeda kepada individu atau kelompok tertentu.
Dampaknya? Tentu saja memicu ketidakadilan, diskriminasi, hingga tekanan psikologis.
Lalu, apa saja ciri-cirinya dan bagaimana kita bisa menghadapinya? Mari kita bedah tuntas.
Karakteristik dan Contoh Double Standard
1. Dalam Perbedaan Gender
Contohnya predikat "Duda" sering dianggap masih menarik, matang, dan punya banyak pengalaman dengan adanya sebutan "sugar daddy", sehingga lumrah-lumrah saja jika ia menikah lagi atau berhubungan dengan perempuan yang lebih muda.
Sebaliknya, janda sering mendapat cap negatif seperti “gagal mempertahankan rumah tangga,” “penggoda,” atau “tidak laku.”
Padahal, keduanya sama-sama pernah berumah tangga dan memiliki hak yang sama untuk melanjutkan hidup.
Selain itu, terkadang pria yang menangis dicemooh sebagai "lemah," sementara perempuan yang menangis dianggap wajar.
Hal ini membuat pria merasa harus menyembunyikan emosi mereka.
2. Dalam Kehidupan Sosial
Pengunjung dengan penampilan mewah lebih cepat dilayani di restoran, sementara yang sederhana sering diabaikan.
Hal ini menunjukkan bahwa penilaian sering kali didasarkan pada kekayaan, bukan pada hak yang sama.
Selain itu, dosen yang datang terlambat dibiarkan, tetapi mahasiswa yang telat langsung diberi hukuman.
| Wanita Asal Lamongan Nekat Lompat dari Lantai 2 Rumah Kos di Concat Sleman |
|
|---|
| Ngobrol Parlemen: Solidaritas Perempuan Perlu Dibangun Demi Iklim Demokrasi yang Ideal |
|
|---|
| Retno Marsudi hingga Susy Susanti Bicara Kekuatan Perempuan |
|
|---|
| Telkom Perkuat Kesetaraan Gender, Targetkan 27 Persen Perempuan di Level Manajerial 2030 |
|
|---|
| Peringatan Hari Kartini 2026 di DIY: Momentum Wujudkan Ruang Aman dan Keadilan bagi Perempuan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-foto-seorang-teman-sedang-menangis.jpg)