6 Cara Menghilangkan Hasad dalam Islam agar Hati Lebih Tenang

Hasad atau rasa iri hati adalah salah satu penyakit hati yang berbahaya bagi seorang muslim.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Ilustrasi Gambar By AI Gemini
hasad dipandang sebagai sikap tercela yang harus dihindari karena berdampak buruk di dunia maupun akhirat. 

TRIBUNJOGJA.COM - Hasad atau rasa iri hati adalah salah satu penyakit hati yang berbahaya bagi seorang muslim.

Rasa tidak suka terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain tidak hanya merusak ketenangan batin, tetapi juga bisa menghapus amal kebaikan.

Dalam Islam, hasad dipandang sebagai sikap tercela yang harus dihindari karena berdampak buruk di dunia maupun akhirat.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui cara-cara menghilangkan hasad agar hati lebih bersih, ikhlas, dan penuh syukur.

 1. Ilmu dan iman, yaitu dengan mengetahui bahwa hasad itu akan berdampak jelek pada diri sendiri di dunia dan akhirat.

Di antara dampak jelek dari hasad adalah:

  • Orang yang hasad berarti menentang takdir Allah.
  • Orang yang hasad itu mirip dengan orang musyrik. Orang musyrik itu bersedih kala ada yang memperoleh kebaikan. Akan tetapi jika memperoleh bencana, malah bergembira.
  • Orang yang hasad itu menjadi bala tentara setan.
  • Orang yang hasad itu memecah bela kaum muslimin.
  • Kebaikan orang yang hasad akan hilang.
  • Orang yang hasad akan terus berada dalam keadaan sedih.
  • Orang yang hasad itu sebenarnya menginginkan sendiri pada dirinya bencana.
  • Orang yang hasad menyebabkan turunnya musibah karena setiap musibah itu disebabkan karena dosa.
  • Orang yang hasad tidak disukai manusia.
     
     2. Mengingat akibat hasad yang berdampak jelek di dunia maupun di akhirat.

Syaikh Musthafa Al-‘Adawi hafizhahullah berkata, “Ketahuilah bahwa orang yang didengki (dihasadi) akan mendapatkan kebaikan dari orang yang hasad. Kebaikan dari orang yang hasad akan diambil dan akan diberi pada orang yang dihasadi. Apalagi sampai ada ghibah dan menjelekkan.” (Fiqh Al-Hasad, hlm. 47)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا, فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ, فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang berbuat zalim pada saudaranya, maka hendaknya dia meminta kehalalan padanya, karena kelak di akhirat tiada lagi dinar maupun dirham sebelum kebaikannya diambil untuk saudaranya (yang dia zalimi). Bila tidak memiliki kebaikan maka kejelekan saudaranya (yang dia zalimi) akan diberikan padanya.” (HR. Bukhari, no. 6534)

 3. Selalu bersyukur dengan yang sedikit.

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 667)

 4. Selalu memandang orang yang di bawahnya dalam masalah dunia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain diberi kelebihan harta dan fisik [atau kenikmatan dunia lainnya], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari, no. 6490; Muslim, no. 2963)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved