Berita Bantul Hari Ini

Grebeg Syawal Wonolelo Dilirik Wisatawan Asing, Bupati Halim : Bagi Mereka Unik

Grebeg yang digelar dengan tema "Guyub Rukun Nyawiji, Greget, Gumregah dan Mbangun Nagari" itu disambut antusias oleh warga lokal hingga WNA.

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
Dokumentasi Pemkab Bantul
Pertunjukan sejumlah budaya lokal saat Grebeg Syawal Kalurahan Wonolelo digelar di Lapangan Kalurahan Wonolelo, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Minggu (5/5/2024). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Prosesi Grebeg Syawal Kalurahan Wonolelo digelar di Lapangan Kalurahan Wonolelo, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta pada Minggu (5/5/2024) siang.

Grebeg yang digelar dengan tema "Guyub Rukun Nyawiji, Greget, Gumregah dan Mbangun Nagari" itu disambut antusias oleh warga lokal hingga warga negara asing (WNA).

Termasuk sejumlah mahasiswa asing mulai dari India, Pakistan, Mesir, hingga Colombia yang turut serta memeriahkan acara tersebut.

Bupati Bantul , Abdul Halim Musih, yang menghadiri aganda itu, merasa senang.

Sebab, prosesi Grebeg Syawal 1445 H/ 2024 M dapat menjadi ajang untuk memperkenalkan budaya lokal ke kancah internasional.

"Mereka datang di grebeg itu untuk mengetahui kebudayaan kita. Di mana, itu oleh mereka dianggap unik, sehingga mereka ingin tahu dan merasakan bagaimana kebudayaan kita langsung," kata orang nomor satu di Bumi Projotamansari.

Adapun peserta pelaksanaan itu terdiri atas warga dari masing-masing padukuhan di Kalurahan Wonolelo.

Baca juga: Grebeg Syawal 2024, Gunungan Tidak Lagi ‘Dirayah’, tapi Dibagikan ke Rakyat, Ini Alasannya

Mereka membawa beberpa maskot berupa replika hewan/tokoh pewayangan. 

Selain itu, ada kirab bregada dari depan kios Kalurahan Wonolelo menuju Lapangan Kalurahan Wonolelo dengan iringan berbagai alat musik, berupa tradisional maupun modern yang berlangsung selama prosesi kirab.

Bahkan, dalam pelaksanaanya, satu persatu bregada tersebut turut menampilkan kekompakan, gerakan dan tarian dihadapan ribuan masyarakat yang memadati jalur kirab tersebut.

Menurut Halim, hal itu menjadi unik di mata para wisatawan manca negara. Apalagi, di bagian akhir acara terdapat perebutan jodang/gunungan hasil bumi yang dibawa oleh masing-masing padukuhan di Kalurahan Wonolelo. 

"Itu kan enggak ada di negara meraka. Rebutan gunungan bagi mereka unik," ucap Halim.

Oleh karenanya, Halim berharap, seluruh tradisi yang ada di Bumi Projotamansari dapat terus dilestarikan.

Dengan begitu, identitas lokal dapat terjaga terus menerus dan tidak punah.

"Itu adalah culture budaya kita yang menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan mancanegara," tutup Halim.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved