Hadis Harian

Hadits Arbain ke 16 : Keutamaan Menahan Amarah

Berkata Syekh Al-Utsaimin dalam Syarhul Arbain An-Nawawi, “Tidak dijelaskan tentang laki-laki ini, dan

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Freepik
Ilustrasi marah 

TRIBUNJOGJA.COM - Hadits Arbain ke 16 dalam kitab Arba’in An-Nawawi, berisi keutamaan menahan amarah. Apabila seseorang selalu mengikuti nafsu amarahnya, hal tersebut justru dikhawatirkan dapat merugikan diri sendiri.

Ada kalimat yang cukup populer dikalangan masyarakat bahwa jangan mengambil keputusan saat marah. Salah satu alasannya adalah karena keputusan yang diambil bisa jadi bukan keputusan yang baik.

Oleh sebab itu, sebagai muslim perlunya untuk selalu berusaha mengendalikan sifat amarahnya. Karena dengan amarah yang meledak-ledak tidak menyelesaikan permasalahan justru bisa makin mempersulit keadaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun telah mewanti umatnya untuk selalu bisa mengendalikan amarahnya. Dalam hadits nya yang berbunyi,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لاَ تَغْضَبْ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Berilah aku nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Janganlah engkau marah.” Diapun mengulanginya beberapa kali, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Janganlah engkau marah.” (HR. Al Bukhari).

Secara umum hadits tersebut menyampaikan pesan Nabi agar bisa mengendalikan diri dari amarah. Dalam hadits tersebut nama orang yang bertanya tidak disebutkan karena pelajaran yang terkandung dalam hadits tersebut ditujukan untuk kepada siapa saja.

Berkata Syekh Al-Utsaimin dalam Syarhul Arbain An-Nawawi, “Tidak dijelaskan tentang laki-laki ini, dan yang seperti ini terjadi pada banyak hadits yang di dalamnya tidak dijelaskan kesamarannya. Hal itu disebabkan pengetahuan terhadap nama orang tersebut dan sifatnya tidak dibutuhkan. Oleh karena itu ditemukan pada berbagai hadits: Sesungguhnya seorang laki-laki berkata begini”.

Namun, ada pandangan lain bahwa laki-laki tersebut ialah Abu Darda RA. Ada juga yang mengatakan bahwa laki-laki tersebut adalah Jariyah bin Qudamah (seorang Tabi’in).

Berkata Syekh Al-Utsaimain tentang perbedaan ini, “Ada sebagian ulama yang telah bersusah payah dengan amat sangat dalam memastikan laki-laki ini, dan yang menjadi pendapat saya adalah tidaklah diperlukan bersusah payah dalam hal ini selama hukumnya tidak berubah karena perubahan si fulan dengan si fulan”.(Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 172)

Dilansir dari rumaysho.com maksud “jangan marah memiliki dua makna,

  1. Menahan diri ketika ada sebab yang membuat kita marah, sampai tidak marah.
  2. Jangan sampai meluapkan amarahnya. Jika ada yang mau marah hingga ingin mentalak istrinya, maka kita katakan “bersabarlah, tahanlah diri terlebih dahulu”.

 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumudin mengatakan bahwa marah adalah termasuk dari pintu setan. Dalam kata lain, jika ketika seseorang marah, berarti dalam waktu yang sama ia telah mempersilahkan setan untuk mempermainkan hatinya sehingga bisa diajak untuk mengikuti langkah-langkahnya.

Dilansir dari aktual.com terdapat 2 cara menahan amarah dari Imam Al-Gozali, yakni,

1. Dengan Ilmu

  • Mengingat apa yang Allah dan rasulnya perintahkan untuk selalu menahan amarah.
  • Memikirkan apa saja akibat yang ditimbulkan oleh amarah. Bukankah marah akan menambah konflik dan dendam ?
  • Apa manfaat bagi diri kita jika marah ?

2. Dengan Amal

  • Berganti posisi. Saat marah, ketika berdiri duduklah, ketika duduk berbaringlah.
  • Ambir air untuk berwurdhu.
  • Dzikir. Awali dengan taawudz. Memilih dzikir dengan frekuensi yang menenangkan, seperti istigfar dan sholawat.

(MG An-Nafi)

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved