Musik Zone
Grup Anteng Kitiran Usung World Music Bernuansa Slendro Pelog
Keberagaman bunyi, nada dan budaya menjadi alasan Anteng Kitiran membuat karya musik menurut pemahaman mereka.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM - Keberagaman bunyi, nada dan budaya menjadi alasan Anteng Kitiran membuat karya musik menurut pemahaman mereka. Ketidakseragaman nada bagi grup band yang mengusung world music ini adalah modal utama dalam berkarya.
Budaya setempat dan kearifan lokal menjadi corong utama mereka menyuarakan karya dan menjadi ciri khas musik yang dihasilkan dari instrumen yang mereka mainkan. Mendengarkan lagu lagu racikan Anteng Kitiran serupa menikmati seduhan wedang uwuh yang disajikan dalam cangkir keramik Eropa atau Tiongkok.
Nada nada melodinya dianalogikan seperti rempah dalam wedang uwuh, sangat lokal, sementara instrumen yang dipakai untuk menghasilkan melodi lagu adalah cangkirnya.
Baca: Bekali Makanan Untuk Anak Sekolah
Grup musik ini dihuni oleh Eko Yuliantoro (biola), Harly Yoga Pradana (bass), Krisna Pradipta Tompo (keyboard/piano) serta Gagah Pacutantra (drum). Eko Balung sapaan akrab violis Anteng Kitiran menuturkan, karya karya yang dihasilkan Anteng Kitiran banyak berakar pada nada Slendro dan Pelog seperti dalam seni karawitan.
Pakem nada inilah yang jarang dimiliki musisi negara lain. Kekayaan nada yang unik inilah yang kemudian dieksplorasi menjadi beragam wujud aransemen dan diperkenalkan ke penikmat musik dunia.
"Kami berangkat dari nada lokal kemudian mencoba mengkolaborasikan dengan nada nada jazz, pop hingga rock sehingga menurut kami membentuk harmoni baru yang unik," terang Eko.
Di kesempatan yang sama, Yoga mengatakan, formasi empat instrumen yang dimainkan masing masing personil dirasa paling pas untuk musik Anteng Kitiran.
Baca: Alit Jabang Bayi Jatuhkan Motor Pilihannya ke Royal Enfield Karena Nyaman Untuk Harian
Eko Balung memainkan biola menjadi pengisi frekuensi nada tinggi, sedangkan Krisna di piano di nada sedang, sementara ia memainkan Bass untuk mengisi frekuensi nada rendang dan Gagah sebagai penjaga ritme dengan memainkan kendang.
"Nada dari instrumen yang kita mainkan mewakili orkestrasi yang kami inginkan. Kami harap tercipta harmoni yang unik melalui empat instrumen ini," kata Yoga.
Lanjut Yoga, Anteng Kitiran yang memiliki makna terus bergerak meski terlihat diam, dimaknai para personil di dalamnya sebagai sebuah laboratorium musik. Bebas mengeksplorasi dan mengekspresikan ide bermusik dalam kerangka positif untuk menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan.
Bakal Pentas di Java Jazz 2019
Kehadiran grup musik asal Yogyakarta ini di skena world music tanah air mampu mencuri perhatian para pecinta world music. Di awal bulan Maret nanti Anteng Kitiran mendapatkan kesempatan pentas di ajang musik tahunan, Java Jazz.
Di salah satu ajang festival jazz besar tanah air ini Anteng Kitiran bakal membawakan kurang lebih 8 repertoar. Di antaranya berjudul Madah dan Gusti Pundi Muzijat Dalem. Dua repertoar ini juga pernah dibawakan di event Ngayogjazz beberapa waktu lalu.
Baca: Sosialisasi Germas di Desa Muntuk, Dinkes DIY Ingatkan Warga Waspadai Penyakit Diabetes dan Jantung
"Kami sudah ada sekitar 15 lagu yang siap di recording secara live. Dua repertoar tersebut termasuk di dalamnya. Setiap repertoar yang kami mainkan adalah hasil workshop bersama sebagai bagian dari merespon apa yang kami rasakan di kehidupan sehari hari," kata Eko.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/grup-anteng-kitiran-usung-world-music-bernuansa-slendro-pelog.jpg)