Komunitas Akar Rumput Berbagi Beragam Disiplin Ilmu

Komunitas Akar Rumput mencoba cara unik untuk mendekatkan masyarakat dengan buku.

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Muhammad Fatoni
ist
Komunitas Akar Rumput 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pepatah buku adalah jendela dunia memang benar adanya. Namun sayangnya, tingkat membaca buku masyarakat belakangan masih terbilang rendah.

Komunitas Akar Rumput mencoba cara unik untuk mendekatkan masyarakat dengan buku.

Komunitas Akar Rumput didirikan pada 10 Oktober 2015 berlandaskan semangat generasi muda yang ingin menyelesaikan permasalahan kurangnya budaya membaca di masyarakat.

Anggota yang didominasi oleh mahasiswa S2 UGM ini juga menyayangkan minimnya media diskusi di ruang publik dan kurangnya kepedulian terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan. Alasan-alasan tersebut mendorong mereka untuk membuat wadah komunitas untuk menyediakan ruang baca buku dan diskusi.

Memiliki slogan ‘Mengakar Kuat Memberi Manfaat’, komunitas ini menjalankan tiga program utamanya, yakni perpustakaan jalanan, diskusi publik atau bedah buku dan penyusunan buku bertema pendidikan.

Perpustakaan jalanan digelar setiap Sabtu mulai pukul 16.00 hingga 22.00 dengan menyediakan berbagai buku untuk dibaca di lokasi acara. Bertempat di Pelataran Tugu Yogyakarta, kegiatan ini membidik masyarakat untuk ikut begabung dan membaca buku.

”Melalui kegiatan ini, kami ingin mempopulerkan bahwa mebaca tidak harus di kamar, melainkan juga bisa di ruang publik. Namun ironisnya, masyarakat kita masih lemah dalam membaca buku, sehingga masyarakat banyak yang memiliki wawasan tanpa rujukan,” ujar anggota Komunitas Akar Rumput, Ahmad Subiyadi pada Rabu (12/10).

Sebanyak 100 hingga 150 eksemplar buku dibawa dari basecamp yang terletak di Perum Mranggen Asri B1, Mranggen Kidul, Sinduadi, Mlati, Sleman ke Pelataran Tugu Yogyakarta. Buku-buku yang dibawa pun berbeda-beda setiap minggunya, mulai dari kategori sosial, novel hingga bacaan anak. Dengan fasilitas seadanya, buku-buku dibawa di dalam kardus dengan sepeda motor.

”Selama ini tantangannya kalau waktu hujan, kami terpaksa pindah ke ruko-ruko terdekat untuk mengamankan buku-buku dan berteduh," katanya.

Selain menggelar Perpustakaan Jalanan, di lokasi yang sama, komunitas yang kini memiliki 40an anggota aktif juga mengadakan diskusi publik atau bedah buku mulai pukul 19.00 hingga 22.00. Dikonsep secara kekeluargaan, diskusi dirancang dengan sederhana dan menghadirkan pembicara dari kalangan anggota Komunitas Akar Rumput sendiri.

Temanya pun beragam, mulai dari isu aktual maupun pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu yang dikuasai pembicara. Diskusi ini bisa diikuti oleh masyarakat manapun.

"Gagasan besarnya adalah sharing dan caring. Sebisa mungkin kami berbagi pengetahuan atau keilmuan yang dimiliki," paparnya.

Mengajak masyarakat untuk membaca buku dan berdiskusi tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi komunitas ini mengadakan programnya di lokasi wisata dimana pengunjung didominasi oleh anak muda.

Sempat Komunitas Akar Rumput ini mengajak masyarakat yang berlalu lalang di sekitar Tugu Yogyakarta untuk bergabung dalam kegiatannya, namun cara ini rupanya tidak terlalu mendapatkan simpati dari masyarakat. Akhirnya komunitas inipun hanya sekedar membuka lapak perpustakaan jalanan dan berdiskusi seperti biasa, kemudian justru banyak masyarakat yang penasaran dan berpartisipasi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved