MBTI
Persona dan Personality MBTI: Dua Sisi Diri yang Saling Melengkapi
Pernah dengan istilah “topi” atau "topeng" yang dipakai oleh setiap orang dalam beraktivitas di keseharian? Yap, biasa dikenal juga dengan Persona.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM – Pernah dengan istilah “topi” atau "topeng" yang dipakai bergantian oleh setiap orang dalam beraktivitas di keseharian?
Terkadang mereka mengenakannya sebagai pekerja, teman, anak, atau pasangan dalam satu waktu.
Nah, istilah “topi” atau "topeng" ini mengacu pada peran maupun perilaku mereka untuk menyesuaikan diri di segala situasi.
Fenomena tersebut bukan sekadar lagak, melainkan bentuk alami dari kemampuan beradaptasi manusia.
Di sinilah konsep persona muncul, menjadi jembatan antara dunia sosial dan kepribadian inti yang sesungguhnya.
Berikut beberapa hal terkait persona dan personality yang perlu diketahui, dilansir dari 16personalities.com.
Persona: Topi, Topeng, dan Riasan
Kata persona berasal dari bahasa Latin yang berarti “topeng”, yaitu menggambarkan cara seseorang menampilkan diri di hadapan dunia.
Namun, persona bukan topeng yang menutupi identitas sejati, mungkin lebih tepatnya seperti riasan panggung ringan.
Ia menyesuaikan penampilan tanpa mengubah wajah dan wujud asli.
Persona membantu berperan sesuai konteks, sehingga, persona menjadi ekspresi sosial yang menavigasi berbagai situasi tanpa kehilangan arah.
Baca juga: Kenapa Hasil Tes MBTI Sering Berubah-Ubah? Ini 5 Alasannya
Personality vs Persona
Jika menyandingkan keduanya, personality diartikan sebagai kepribadian inti diri yang menetap, sedangkan persona bersifat situasional dan fleksibel.
Personality menggambarkan kecenderungan alami, seperti introvert atau ekstrovert dalam kerangka MBTI.
Sementara itu, persona merupakan penyesuaian diri terhadap lingkungan, dan tipe kepribadian lah inti yang menjaga semua persona adaptif tetap terarah.
Selain itu, personality atau kepribadian tetap sama di berbagai konteks, tapi persona berubah mengikuti kebutuhan sosial atau emosional.
Oleh karenanya, keduanya dapat saling melengkapi, karena personality memberi dasar stabilitas, sedangkan persona memberi kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia.
Pulang ke Rumah Setelah Eksplorasi
Setelah seharian beradaptasi dengan berbagai persona, respon utama ketika sedang rehat ialah kembali ke sifat dasar yang paling nyaman, yaitu personality.
Bagi seorang introvert, mungkin berarti butuh waktu sendiri setelah tampil percaya diri di hadapan banyak orang.
Bagi seorang ekstrovert, bisa berarti mencari kembali energi lewat interaksi setelah lama menahan diri.
Personality adalah rumah tempat beristirahat setelah menjelajahi dunia dengan berbagai “topi” yang telah kenakan.
Memiliki banyak persona bukan hal yang salah, justru menunjukkan kelenturan dan kecerdasan sosial.
Namun, di balik setiap persona, jangan pernah lupa kembali ke jati diri, kepribadian MBTI yang menjadi pusat penyeimbang dan arah hidup.
( MG/Farah Amiratunnisa )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Selain-MBTI-Kamu-Harus-Coba-3-Tes-Kepribadian-Ini.jpg)