BEM UGM Enggan Lapor Polisi Soal Teror, Ini Alasannya

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menerangkan teror kepadanya dan pengurus BEM rupanya masih terjadi. 

Tayang:
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
TEROR MASIH TERJADI - Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Tiyo menyebut bahwa teror kepadanya dan pengurus BEM yang kini menjadi isu publik rupanya masih terjadi.  

Ringkasan Berita:
  • Aksi teror yang diterima Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto semakin meluas.
  • Bukan hanya Tiyo dan orang tuanya yang mendapat teror, lebih dari 40 pengurus BEM UGM yang turut mendapat teror dari nomor tidak dikenal.
  • Selain itu, orang tua pengurus BEM UGM lain juga mendapat teror serupa.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Teror yang diterima Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto semakin meluas.

Tidak hanya Tiyo dan orang tuanya yang mendapat teror, lebih dari 40 pengurus BEM UGM yang turut mendapat teror dari nomor tidak dikenal. 

Bahkan orang tua pengurus BEM UGM lain juga mendapat teror serupa.

Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto menerangkan teror kepadanya dan pengurus BEM yang kini menjadi isu publik rupanya masih terjadi. 

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), dan UGM.

Meski banyak dorongan untuk melapor ke aparat penegak hukum, namun BEM UGM masih enggan menempuh jalur hukum.

Fokus kritik pemerintah

Fokus utama BEM UGM saat ini adalah menyampaikan evaluasi dan kritik kepada pemerintah.

"Karena pada dasarnya teror yang terjadi itu tidak berimbas apa-apa kepada kami, kami akan senantiasa melawan, senantiasa akan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat," katanya saat ditemui di UII Cik Di  Tiro, Minggu (22/2/2026).

"Justru terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena justru persaudaraan diantara teman-teman BEM  UGM semakin solid. Karena punya nasib yang sama, yaitu menjadi korban dari teror nomor-nomor yang tidak dikenal," sambungnya.

Tidak percaya pada Polisi

Ketidakpercayaan pada institusi Polri pun menjadi alasan BEM UGM tidak ingin melaporkan teror. 

Apalagi ada seorang anak di Tual, Maluku yang pada Kamis (19/2/2026) meninggal dunia seusai dianiaya oleh anggota Brimob Polda Maluku.

Peristiwa itu justru semakin menguatkan keraguan BEM UGM untuk melaporkan teror ke kepolisian.

"Untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian, itu juga menjadi satu keraguan bagi kami. Karena baru terjadi kemarin, seorang polisi yang membunuh rakyat Indonesia, membunuh anak bangsa Indonesia. Lalu dengan situasi seperti ini, kita akan minta tolong ke polisi? Rasanya kemanusiaan kami justru dipertanyakan. Karena teror ini masih sebatas digital, sehingga justru kami tidak mau disibukan dengan itu," terangnya.

Curiga ada penyusup

Tiyo justru menduga ada penyusup dari pihak tertentu yang sengaja dimasukkan ke dalam kepengurusan BEM UGM yang besar. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved