Membaca Kritik Sastra dari Buku Seks, Teks, Konteks Karya Katrin Bandel di Pascasarjana USD
Ruang diskusi Pascasarjana Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta berubah menjadi seperti ruang baca raksasa, hangat,
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Ruang diskusi Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta berubah menjadi ruang baca percakapan tentang seksualitas, sastra, dan pengalaman manusia.
- Di sinilah buku Seks, Teks, Konteks, karya terbaru Katrin Bandel nan kritis, personal, dan tebal hingga 632 halaman diluncurkan dan dibedah, Jumat.
- Acara yang digagas Program Magister Kajian Budaya USD bersama Rumah Sukma dan Anjani itu mengusung tema yang merangkum seluruh napas buku ini “Membaca Seks, Menafsir Teks, Menghadirkan Konteks.”
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ruang diskusi Pascasarjana Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta berubah menjadi seperti ruang baca raksasa, hangat, dan dipenuhi percakapan tentang seksualitas, sastra, dan pengalaman manusia.
Di sinilah buku Seks, Teks, Konteks, karya terbaru Katrin Bandel nan kritis, personal, dan tebal hingga 632 halaman diluncurkan dan dibedah, Jumat sore (5/12/2025).
Acara yang digagas Program Magister Kajian Budaya USD bersama Rumah Sukma dan Anjani itu mengusung tema yang merangkum seluruh napas buku ini “Membaca Seks, Menafsir Teks, Menghadirkan Konteks.”
Sebuah kalimat yang terasa seperti pintu masuk pada dua dekade perjalanan intelektual Katrin dalam dunia kritik sastra Indonesia.
Katrin Bandel, ditemani sastrawan Raudal Tanjung Banua dan alumnus S2 Kajian Budaya USD, Wahmuji, sementara diskusi dipandu Ani Kurniasih, mahasiswa S3 Kajian Seni dan Masyarakat USD.
Dalam paparannya, Katrin mengungkap bahwa keseluruhan esai dalam buku ini ditulis sejak 2001 hingga 2021 bermula dari hal yang paling sederhana minat.
“Saya menulis pada prinsipnya karena minat saya sendiri. Jadi kalau berangkat dari minat, dia terkesan jujur. Idealnya penulisan seperti itu,” tuturnya, perempuan asal Wuppertal, Jerman itu.
Pernyataan itu menggambarkan betapa personal sekaligus politis proses kreatif Katrin. Kritik sastra, bagi dirinya, tidak lahir dari kewajiban intelektual semata, melainkan dorongan untuk memahami kehidupan.
Namun ia juga mengaku pernah meragukan dirinya sendiri. Seusai 2021, produktivitas menulisnya menurun karena kesibukan menjadi dosen pascasarjana Kajian Budaya USD dan aktivitas lainnya.
Ia sempat bertanya, apakah perjalanan sebagai kritikus sastra sudah selesai? Jawabannya justru datang saat ia menengok kembali arsip pikiran yang pernah ia tumpahkan.
“Membaca pengalaman kemanusiaan lewat sastra memberi ruang berbeda. Sastra selalu menjadi inspirasi,” ulasnya.
Rasa bosan yang sempat mampir berubah menjadi kegembiraan baru dan dari situlah buku ini akhirnya menemukan jalannya menuju pembaca.
Buku Seks, Teks, Konteks lahir bukan hanya dari proses menulis, tetapi juga dari desakan pembaca.
Banyak karyanya yang mulai sulit ditemukan di pasaran, sehingga para pembaca dan penerbit mendorong lahirnya kompilasi ini.
| Mantan Kapolda DIY Rilis Buku 'Pemimpin Kekinian', Tekankan Pentingnya Regenerasi dan Integritas |
|
|---|
| Ketika Naskah Teater Membongkar Trauma Sosial: Membaca Eunoia Karya Whani Darmawan |
|
|---|
| Pecinta Buku Wajib Tahu! Ini 7 Rekomendasi Toko Buku Bekas di Jogja |
|
|---|
| Rekomendasi 5 Media Sastra yang Siap Bayar Karyamu |
|
|---|
| Film Dead Poets Society untuk Gen Z yang Sedang Cari Jati Diri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Katrin-Bandel-memberikan-pemaparan-pada-peluncuran-dan-bedah-buku-Seks-Teks-Konteks.jpg)