LPPM Sanata Dharma: Sampah Bukan Beban, tapi Peluang Ekonomi Kreatif

Krisis pengelolaan sampah masih menghantui warga di DI Yogyakarta secara umum.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Joko Widiyarso
DOKUMENTASI untuk TRIBUNJOGJA.COM
DAUR ULANG SAMPAH - Sejumlah warga saat membuat Wood Plastic Composite (WPC) dari limbah plastik. Bersama Perkumpulan Aksara Yogyakarta, LPPM Sanata Dharma berkomitmen memberikan pelatihan daur ulang sampah. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Krisis pengelolaan sampah masih menghantui warga di DI Yogyakarta secara umum.

Namun di tengah-tengah situasi itu muncul sebuah inisiatif sederhana tapi penuh makna dari kolaborasi perguruan tinggi dan komunitas.

Bukan sekadar bicara soal mengurangi sampah plastik, melainkan bagaimana sampah itu bisa diolah menjadi sumber daya baru, bahkan potensi peluang ekonomi bagi masyarakat.

Itulah semangat yang dibawa oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.

Bersama Perkumpulan Aksara Yogyakarta, LPPM meluncurkan program bertajuk “Ekonomi Hijau: Pengembangan Ekonomi dan Desain Kreatif Daur Ulang Plastik.”

Kegiatan ini hadir sebagai jawaban atas persoalan akut sampah plastik, terutama setelah penutupan TPA Piyungan yang membuat Yogyakarta terancam krisis pengelolaan sampah.

"Sampah bukan beban, tapi peluang ekonomi kreatif. Yang kita butuhkan adalah kesadaran dan keberanian untuk mengolahnya," ujar Ketua LPPM Universitas Sanata Dharma, Dr. Gregorius Budi Subanar, Minggu (21/9/2025).

Program ini tak sekadar memberi teori. Ada lima tahapan yang dirancang, mulai dari sosialisasi, pelatihan ekonomi dan manajemen kreatif, praktik produksi berbasis plastik daur ulang, hingga strategi pemasaran digital.

Pada tahap awal, LPPM Universitas Sanata Dharma dan Perkumpulan Aksara Yogyakarta melakukan sosialisasi dan pelatih di Kelurahan Condongcatur dan Minomartani yang berada di Kabupaten Sleman dan dekat dari kampus Sanata Dharma.

"Pertimbangan kita di dua daerah ini karena kelurahan ini berada di dekat kampus kita, di lingkungan kita berada, dan ini wilayah Sleman yang perlu untuk menggerakkan komunitas juga," ulasnya.

Lanjutnya, beberapa produk yang dihasilkan dari daur ulang sampah plastik ini berupa Wood Plastic Composite (WPC), peralatan rumah tangga, hingga desain kriya kreatif.

Dalam sekali tahapan produksi WPC, sedikitnya enam kilogram sampah berhasil di daur ulang menjadi produk yang memiliki nilai guna.

"Mungkin untuk beberapa waktu kedepan bisa dibuka lebih luas lagi. Ini kan ada proses trial dan error-nya," ulasnya.  

Ke depan, Universitas Sanata Dharma dan Perkumpulan Aksara berkomitmen memperkuat kapasitas produksi dan jejaring pemasaran.

Harapannya, produk-produk daur ulang ini tak hanya menjadi solusi lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved