Sore ini, Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran 1,5 Km ke Hulu Kali Boyong

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menyampaikan, awan panas guguran terjadi pada pukul 17.05 WIB.

Tayang:
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa/Dok/BPPTKG
GUGURAN: Awan panas guguran meluncur dari puncak Gunung Merapi sejauh 1,5 kilometer ke arah barat daya atau hulu Kali Boyong, Rabu (11/2/2026) pukul 17.05 WIB. 

Ringkasan Berita:
  • Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran (APG) pada Rabu (11/2/2026) sore, sejauh 1.500 meter ke arah selatan atau hulu Kali Boyong
  • Secara visual, gunung tampak berkabut 0-II dan tidak teramati asap kawah.
  • BPPTKG menyebut suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
  • BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya serta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DI Yogyakarta meluncurkan awan panas guguran (APG) pada Rabu (11/2/2026) sore. 

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas meluncur sejauh 1.500 meter ke arah selatan atau hulu Kali Boyong.

Awan panas guguran

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso menyampaikan, awan panas guguran Gunung Merapi terjadi pada pukul 17.05 WIB.

“Estimasi jarak luncur 1.500 meter dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 140,5 detik mengarah ke barat daya (hulu Kali Boyong),” ujar Agus dalam laporan resminya.

Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga) yang telah ditetapkan sejak 5 November 2020.

Visual Merapi

Berdasarkan laporan aktivitas periode pengamatan 11 Februari 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, kondisi meteorologi terpantau berawan hingga mendung dengan angin lemah ke arah timur.

Suhu udara berkisar 23–24,9 derajat Celsius, kelembapan 74–74,3 persen, serta tekanan udara 874,5–917,2 mmHg.

Secara visual, gunung tampak berkabut 0-II dan tidak teramati asap kawah.

Sementara itu, aktivitas kegempaan tercatat ada 28 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–5 mm dan durasi 43,7–192,67 detik. Selain itu, tercatat 23 gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–36 mm dan tiga gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 23–80 mm.

Suplai magma berlangsung

BPPTKG menyebut suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Adapun potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer.

Sementara itu, lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya serta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.

Masyarakat juga diminta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi.

Perkembangan aktivitas Gunung Merapi dapat dipantau melalui siaran resmi BPPTKG maupun kanal informasi Badan Geologi. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved