Misteri Api di Rumah Warga Sleman

BRIN Ikut Terjun ke Lapangan, Teliti Fenomena Teror Api Misterius di Rumah Warga Seyegan Sleman

BRIN mulai turun ke lokasi setelah rentetan kebakaran secara acak tersebut tak kunjung berhenti selama lebih dari dua pekan terakhir di Seyegan

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Hari Soekarno 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai ikut turun ke lapangan untuk mengungkap fenomena teror api misterius di rumah Agusyani Mujiyanto, di Padukuhan Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman.

Lembaga pemerintah nonkementerian ini mulai turun ke lokasi, setelah rentetan kebakaran secara acak tersebut tak kunjung berhenti selama lebih dari dua pekan terakhir.

Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Hari Soekarno. mengatakan pihaknya telah diterjunkan untuk melakukan survei awal di lokasi kejadian.

BRIN akan bergerak mengintegrasikan data dengan tim peneliti yang sudah tiba lebih dulu, seperti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran"Yogyakarta maupun dari yang lainnya. 

"Karena kami mendapat tugas mendadak, untuk kali ini kami baru survei awal. Mungkin kami akan diskusi dengan peneliti-peneliti sebelumnya, baik dari UGM, dari UPN, maupun dari BNPB. Nanti, dari hasil kunjungan kami ini, selanjutnya kami akan mengadakan diskusi penelitian, apa saja yang sudah dilakukan, dan selanjutnya kami akan melengkapinya.Mungkin kalau ada yang belum dilakukan, nanti kami akan melengkapinya," kata Hari, ditemui di Rumah Agusyani, Senin (8/6/2026). 

Sudut Pandang Baru

BRIN turun ke Seyegan membawa sudut pandang baru.

Menurut Hari, dirinya meragukan sumber kemunculan api di rumah Agusyani dipicu oleh gas fosfin (PH3) yang berasal dari limbah pemotongan ayam di sekitar rumah korban, sebagimana analisis awal tim UGM.

Menurut pantauan BRIN, instalasi limbah pemotongan ayam tersebut dikelola secara terbuka.

Artinya, seandainya ada gas organik yang terbentuk dari proses fermentasi, gas itu dipastikan langsung menguap bebas dan ternetralisasi oleh atmosfer, bukan mengendap di bawah tanah.

"Kalau saya melihat dari instalasi limbah pemotongan ayam, kemungkinan bahwa itu adalah dari dekomposisi organik, menurut saya tidak ya. Karena pengelolaan limbahnya itu sudah langsung terbuang ke atmosfer. Dia bukan tertanam di dalam tanah ya. Seandainya terbentuk gas, dia sudah akan lepas ke atmosfer," katanya. 

Baca juga: Tim UGM Teliti Fenomena Api di Rumah Warga Seyegan Gunakan Georadar, Deteksi Retakan Bawah Tanah

Sebagai gantinya, BRIN mulai mengalihkan fokus pada faktor geologis bawah permukaan atau subsurface.

Ini sejalan dengan alat pemindai bumi atau georadar yang telah dilakukan di seputar area rumah korban untuk mendeteksi keberadaan sesar, patahan atau retakan struktur bumi.

Jalur retakan ini dicurigai menjadi pipa alami yang mengalirkan gas alam dari perut bumi ke dalam rumah Agusyani.

Kendala di Lapangan

Kendati demikian, apa yang akan dilakukan BRIN di rumah warga Seyegan ini bukan tanpa kendala. 

Peneliti dihadapkan pada tantangan teknis.

Untuk memastikan jenis gas yang menjadi bahan bakar fenomena ini, apakah gas metana atau hidrogen, tim mau tidak mau harus melakukan sampling atau pengambilan sampel udara di dalam ruangan.

Tantangannya, konsentrasi gas di lokasi terpantau sangat rendah sehingga menyulitkan proses pengambilan sampel.

Selain itu, fasilitas laboratorium kromatografi gas atau gas chromatography di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai belum siap untuk melakukan pengujian ini.

"Kami punya alat di Jakarta, (tapi) mungkin akan sulit ya membawa sampling gas ke Jakarta. Nah, nanti kita diskusikanlah untuk itu.Tetapi untuk mengetahui jenis gasnya, mau tidak mau kita akan lakukan sampling," kata Hari. 

Menurutnya, titik api yang muncul di rumah Agusyani ini merupakan fenomena langka, karena gas bisa menyala di suhu ruangan rendah. 

Bahkan diakui peneliti BRIN, ini adalah kasus pertama yang mereka tangani di Indonesia.

Kemunculan gas rawa di alam terbuka mungkin sudah lazim ditemukan, namun kasus material yang terbakar sendiri di dalam rumah tanpa pemantik api jelas menjadi teka-teki besar yang kini coba dipecahkan oleh para peneliti.

"Belum, kalau yang semacam ini, belum pernah (kami tangani). Tapi kalau kemunculan (gas) di alam terbuka itu sering. Yang gas rawa tadi, itu sudah sering. Cuman kalau yang seperti ini, terbakar di suhu rendah, belum,"jelas dia.(*) 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved