Minyak Goreng Premium dan MinyaKita Langka di Pasar Beringharjo Jogja, Harga Merangkak Naik​

Ketersediaan komoditas minyak goreng di pasar tradisional di Kota Yogyakarta kembali dikeluhkan para pedagang maupun warga masyarakat.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/AZKA RAMADHAN
LANGKA - Salah satu pedagang komoditas minyak goreng di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, Yani Handayani, Senin (8/6/26). 

Ringkasan Berita:
  • Stok minyak goreng di pasar tradisional di Kota Yogyakarta kembali dikeluhkan para pedagang maupun warga masyarakat.
  • Pada beberapa pekan terakhir, pasokan minyak goreng kemasan premium maupun subsidi pemerintah, Minyakita, terpantau mengalami kelangkaan stok sekaligus lonjakan harga.
  • Menurut ​Yani Handayani, seorang pedagang di Pasar Beringharjo, tersendatnya pasokan minyak goreng kemasan premium berukuran 1 liter dan 2 liter sudah terjadi sejak satu bulan terakhir.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketersediaan komoditas minyak goreng di pasar tradisional di Kota Yogyakarta kembali dikeluhkan para pedagang maupun warga masyarakat.

Dalam beberapa pekan terakhir, pasokan minyak goreng kemasan premium maupun subsidi pemerintah, Minyakita, terpantau mengalami kelangkaan stok sekaligus lonjakan harga.

​Yani Handayani, salah seorang pedagang di Pasar Beringharjo, menuturkan, tersendatnya pasokan minyak goreng kemasan premium berukuran 1 liter dan 2 liter sudah terjadi sejak satu bulan terakhir.

​Menurutnya, keterlambatan pengiriman dari pihak distributor membuat pedagang harus menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk mendapatkan barang dagangan.

​"Biasanya lancar, hari ini order besok langsung datang. Nah, sekarang tidak bisa langsung datang. Harus menunggu agak lama, bisa sampai seminggu," ujarnya, Senin (8/6/26).

​Ia mencontohkan, untuk merek premium seperti Fortune dan Sania yang biasa ia jual kini kirimannya kerap tidak lengkap, sedangkan brand lainnya kosong.

Kelangkaan pasokan otomatis memicu kenaikan harga jual di tingkat pedagang sejak satu minggu lalu, di mana minyak goreng kemasan premium ukuran 2 liter menyentuh Rp45.000.

​Menyikapi fenomena tersebut, Yani mengaku belum membatasi pembelian untuk konsumen rumah tangga yang biasanya membeli dalam jumlah eceran. 

Namun, ia kewalahan memenuhi permintaan pelanggan dari sektor usaha seperti hotel dan rumah makan yang biasa membeli dalam skala karton atau dus.

​"Kalau rumah tangga beli seliter-dua liter mungkin masih ada, secukupnya. Tapi kalau porsi seperti hotel yang mencari sampai satu dus (karton), itu barangnya yang tidak ada," tandasnya.

​MinyaKita lama kosong 

​Sementara itu, Surati, pedagang lain di Pasar Beringharjo, menyebut pasokan MinyaKita bahkan sudah mengalami kekosongan selama hampir dua bulan terakhir.

Padahal, dirinya sempat dijanjikan akan mendapat kuota sekitar 20 karton melalui pangkalan, namun hingga kini barang tersebut tak kunjung datang.

​"Terakhir dikirimi sudah sekitar dua bulan lalu, dapat 25 karton dan itu langsung cepat habis. Setelah itu, sudah tidak ada kiriman lagi, barangnya kosong," keluhnya.

​Selain Minyakita, deretan merek minyak goreng premium populer seperti Bimoli dan Sanco juga sudah berbulan-bulan tidak menyetor barang ke pasar, sehingga stoknya kini kosong di lapak pedagang.

​Sebaliknya, untuk komoditas minyak goreng curah, Surati menyebut pasokannya relatif aman dengan harga jual berada di kisaran Rp19.000 per jerigen, dan mengalami sedikit penurunan harga beberapa waktu terakhir.

"Tapi, itu (pembeli) tidak terus pindah ya, kecuali yang sudah biasa pakai curah. Mungkin karena kualitasnya beda, tetap paling dicari Minyakita," ungkapnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved