Menimbang Regulasi dan Kemanusiaan di Balik Pembersihan Bentor dari Aspal Malioboro

Pemkot Yogyakarta menghadapi tantangan, antara menegakkan regulasi dan menjaga kehidupan tukang bentor

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
SOAL BENTOR MALIOBORO - (Dokumentasi) Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho. ​Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, mengungkapkan magnet utama wisatawan mutlak tertuju pada satu poros magis Malioboro.  

Ringkasan Berita:
  • Mewujudkan kawasan ikonik Malioboro sebagai Zona Emisi Rendah (Low Emission Zone/LEZ) rupanya bukan perkara gampang. 
  • Saat ini, Pemkot Yogyakarta menghadapi tantangan, antara menegakkan regulasi sembari menjaga ekosistem becak motor (bentor) yang kadung menjamur.
  • Menurut ​Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, magnet utama wisatawan mutlak tertuju pada satu poros magis Malioboro.

 

TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Mewujudkan kawasan ikonik Malioboro sebagai Zona Emisi Rendah (Low Emission Zone/LEZ) rupanya bukan perkara gampang. 

Pemkot Yogyakarta pun menghadapi tantangan pelik, antara menegakkan regulasi lingkungan sembari menjaga peri kehidupan para pencari nafkah, terutama ekosistem becak motor (bentor) yang kadung menjamur.

​Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho, mengungkapkan magnet utama wisatawan mutlak tertuju pada satu poros magis Malioboro

Area yang membentang dari Tugu Pal Putih, hingga Kraton Ngayogyakarta seakan menyatukan pusaran aktivitas wisata sekaligus denyut nadi ekonomi kota.

​"Begitu akhir pekan tiba, pergerakan kendaraan pribadi luar biasa padat. Tantangannya jelas, emisi gas buang, kemacetan, dan penurunan kualitas udara. Jika tidak ada pengaturan ketat, ledakan kunjungan ini justru akan membunuh kenyamanan Yogyakarta," ucapnya.

​Di tengah ambisi membersihkan udara Malioboro dari potensi polusi, Pemkot Yogyakarta membentur tembok realita sosial bernama becak motor.

Pihaknya pun menyadari betul, julukan, sindiran, bahkan olok-olokan kepada Yogyakarta sebagai "kota seribu bentor" bukanlah isapan jempol belaka.

​Meski ada aspek alamiah dan kemanusiaan yang melatarbelakangi kemunculannya, dari sudut pandang hukum dan lingkungan, bentor adalah masalah menahun.

Sehingga, ketika momentum itu tiba, pembersihan kawasan Malioboro dari aktivitas becak motor sontak tidak boleh ditahan dan ditunda-tunda lagi.

​"Scara regulasi, bentor jelas tidak sesuai aturan baku. Secara lingkungan, emisinya, apalagi. Tapi di sini kan terdapat aspek kemanusiaan yang tidak bisa kita abaikan begitu saja," terang Kadishub.

Pemkot memanusiakan manusia

​Oleh sebab itu, Pemkot Yogyakarta menegaskan, tidak akan sekadar menggusur para pengemudi bentor dari kawasan Malioboro tanpa solusi konkret. 

Prinsip transformasi mobilitas yang diusung pemerintah bukan hanya membersihkan aspek lingkungan hidup, namun juga memanusiakan manusia di dalamnya.

​"Target utama kami adalah bagaimana kawasan wisata Malioboro ini bisa bebas emisi, tetapi di saat bersamaan pengemudi bentor tetap bisa hidup dan mencari makan. Caranya? Kita ubah modanya tanpa mematikan mata pencahariannya," urainya.

​Sebagai jalan tengah, Pemkot Yogyakarta telah merancang prototipe teknologi baru berupa becak kayuh bertenaga alternatif sebagai pengganti bentor.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved