Fenomena Titik Api di Seyegan
Sudah 91 Titik Api Muncul Dalam 12 Hari di Rumah Agus Yani Seyegan Sleman
Kemunculan api secara tiba-tiba masih terjadi dan membakar berbagai barang di rumah warga Seyegan, Sleman.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fenomena kemunculan api secara misterius di rumah warga bernama Agus Yani di Padukuhan Mriyan X, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten, Sleman, belum berhenti.
Upaya penanganan api maupun analisis penyebabnya masih dilakukan para ahli terkait.
Berdasarkan catatan Tribun Jogja, titik api setidaknya telah muncul hingga 91 kali di rumah tersebut dan membakar beberapa barang, sejak kemunculan pertama pada Sabtu (23/5/2026) hingga Rabu (3/6/2026) atau 12 hari.
Pada Rabu kemarin, api muncul di rak ruang tengah pukul 07.45, dan tak lama kemudian membakar sandal di lorong tengah.
Pukul 09.05, api dua kali muncul membakar lemari ruang tengah dan 09.50 membakar buku di kamar tengah.
Pada siang hari, api muncul lagi membakar kardus, dan pukul 17.40 membakar buku serta kardus di kamar tengah.
Pukul 18.50, tumpukan kayu di halaman belakang tiba-tiba terbakar.
Putri sulung Agus Yani, Mutfiana mengatakan sejak Rabu pagi sudah ada lima kali kebakaran.
Beberapa barang yang terbakar antara lain rak di ruang tengah, sandal di lorong tengah, lemari terjadi dua kali kebakaran, dan buku di kamar.
Ia menyebut kebakaran sempat meluas pada Selasa (2/6/2026) kemarin, namun pada Rabu yang terbakar hanya rumahnya.
Saat ditanya soal rekomendasi ahli agar keluarga tinggal di lantai dua, Fia mengaku memiliki alasan sendiri untuk tak melakukannya.
“Kalau kami tinggal di lantai dua, nanti kalau terbakar sedikit tidak ketahuan, malah bisa habis. Kalau di samping kan bisa memantau api, dapur dan usaha pemotongan ayam juga lebih dekat,” imbuhnya.
Keruk rumpun bambu
Tim ahli dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), secara paralel telah turun ke lapangan untuk merumuskan penanganan.
Tim dari BPPTKG kemarin mengeruk rumpun bambu di Sungai Nepen, tak jauh dari rumah Agus Yani, menggunakan dua alat berat.
Penyelidik Bumi Muda BPPTKG, Aris Dwi Nugroho mengatakan pengerukan ini bertujuan untuk mencari sumber gas, setelah tim Geologi UPN menemukan gelembung-gelembung dari bawah air, sebagai indikasi adanya gas metan dari rawa.
Pihaknya telah menelusuri area itu dari sisi timur ke barat daya untuk melacak jalur gas metan tersebut, namun nihil.
“Adanya di barat laut sana dekat pohon bambu itu ada, tapi hilang cuma empat persen. Setelah kami ke rumah juga nggak ada (gas metan),” katanya di Sungai Nepen, Rabu.
Ia menerangkan gas metan yang diduga bersumber dari Sungai Nepen ini bisa mengarah ke rumah Agus Yani lantaran sesar di sebelah barat Progo berarah barat timur.
Sesar tersebut membuat sesar-sesar atau kekar-kekar kecil.
“Di bawah situ ada kekar yang bisa kita ukur, itu arahnya 280 kalau dari sini (Sungai Nepen) itu hampir sama dengan rumahnya Pak Agus yang di sana. Jadi gas itu menyebar melalui rekahan yang tadi, berarah tadi menuju ke rumah Pak Agus. Teman-teman UPN sedang membuat lintasan geolistrik di sana, harapannya kalau memang ada rekahan itu ke-detect,” terangnya.
Pengerukan ini diharapkan dapat menghilangkan sumber gas metan yang diduga berasal dari Sungai Nepen.
Setelah pengerukan, pihaknya akan mengambil sampel kembali untuk mengecek kadar gas metan.
“Harapannya, kalau ini hilang, sudah nggak ada di sana, supaya source metan itu hilang. Ini kami hilangkan, kami akan mencoba mengukur di sana lagi, nanti ambil sampel udara sana seperti apa,” imbuhnya.
Intip struktur batuan
Adapun perekaman dan pemetaan geofisika oleh UPN dilakukan di sekitar 6-7 lintasan, utamanya di sisi timur rumah Agus Yani, dengan lintasan terdekat berjarak 30 meter di belakang rumah.
Para peneliti memasang patok-patok di sepanjang lintasan yang diukur. Panjang lintasan sekitar 200 meter.
Koordinator Peneliti Geofisika UPN “Veteran” Yogyakarta, Ardian Novianto mengatakan pihaknya menggunakan alat geolistrik untuk membaca resistivitas batuan, guna melihat lapisan di bawah tanah dan pola-pola lapisan batuan dari segi hambatan jenis listriknya.
“Nanti ada desain akuisisi yang sudah kita lakukan, tapi tidak mengotak (di rumah Agus Yani),” katanya.
Pihaknya menduga ada lapisan batuan yang menjadi tempat berkumpulnya gas.
Struktur batuan tersebut diinterpretasikan sebagai jalur keluarnya gas.
Selain memetakan struktur lapisan batuan, perekaman tersebut juga dapat memotret adanya patahan di bawah tanah.
“Jadi kami ingin mencari apakah ada lapisan yang mungkin bisa menjadi tempat, wadah untuk menyimpan gas tadi. Mencari sumbernya di mana, artinya sumbernya bisa di mana, tapi tersimpan dimana kan bisa, nah nanti rilisnya dia (gas) ke mana,” terangnya.
Ia menyebut perekaman geofisika tidak membutuhkan waktu lama dan setelahnya akan dilakukan analisis lebih lengkap. (rif/maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Teror-Api-Muncul-Lagi-Bakar-Tumpukan-Kayu-Keluarga-di-Seyegan-Terus-Berjaga.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.