Kebakaran
Titik Api di Seyegan Meluas, Kini Menyala di Halaman Tetangga
Titik api yang tiba-tiba muncul di rumah warga Seyegan, Sleman, belum juga usai. Bahkan, kini mulai muncul di halaman tetangga.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fenomena kemunculan api di rumah warga di Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih berlanjut hingga Selasa (2/6/2026).
Bahkan, titik api kini tidak hanya muncul di area dalam rumah Agus Yani, tetapi juga tiba-tiba menyala di halaman tetangganya.
Satu titik api muncul membakar triplek yang diletakkan di halaman belakang ruko, tepat di utara rumah Agus, pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 15.00.
Nyaris empat jam kemudian, tepatnya pukul 18.45, tumpukan kayu di halaman belakang rumah kontrakan sebelah utara ruko pun terbakar.
Sedangkan pada Selasa, ada beberapa titik api yang muncul lagi di rumah Agus. Pertama pada pukul 01.02, yang membakar kardus.
Selanjutnya adalah baju terbakar di kamar, tak berselang lama dari titik api di kardus tersebut.
Pukul 10.45, sprei yang dijemur di belakang ruko juga terbakar tiba-tiba.
Selepas petang, kardus dan terpal di atas gerobak terbakar hebat pada pukul 18.56.
Lokasinya berada di sawah belakang rumah. Api menjilat ke atas nyaris setinggi dua meter.
Dibutuhkan beberapa kali semprotan alat pemadam api ringan (APAR) untuk menghentikan kobarannya.
Berselang sepuluh menit kemudian, api kembali muncul di dapur.
Mulanya kardus terbakar, tapi kemudian merembet ke tabung gas yang berada di sebelahnya.
Kepanikan sempat melanda karena api menyala cukup besar di atas regulator tabung.
"Awas, awas, (api) kena gas. Langsung semprot wae," ucap sejumlah orang yang berjaga di depan rumah.
Dengan demikian, titik api yang diduga kuat disebabkan gas yang merembes dari rekahan tanah ini sudah muncul di tiga area rumah/pekarangan.
Sejak Sabtu (23/5) hingga Selasa malam, atau 11 hari, total ada 83 titik api yang membakar sejumlah barang, mulai dari pakaian, perabot, kayu, dan lainnya.
Baca juga: BPBD Sleman Libatkan Akademisi Tangani Fenomena Kebakaran di Seyegan untuk Jamin Keamanan
Observasi
Dekan Fakultas Teknik Mineral dan Energi (FTEM) UPN "Veteran" Yogyakarta, Prof Basuki Rahmad, kembali melakukan observasi di rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Selasa (2/6/2026) sore hingga petang.
Kedatangannya kali ini termasuk menggali data-data pun informasi dari warga sekitar.
Ditemani putri sulung Agus, H. Mutfiana, Basuki ditunjukkan titik-titik api baru yang muncul kemarin dan hari ini.
Termasuk melihat bekas api yang muncul di dua lahan tetangga Agus.
Selepas itu, mereka menyusuri pematang dan jalan setapak menuju ke Bendung Selokan Gembung Krusuk, Padukuhan Nepen, Seyegan, sekitar 300 meter ke arah timur dari rumah Agus.
Sebelumnya, Basuki memantau sumur salah satu warga Nepen.
Beberapa waktu lalu, tercium bau gas di sumur itu saat akan digali karena air mengering.
Menggunakan dua senter, Prof Basuki melihat gelembung-gelembung kecil di permukaan air sumur.
Apakah itu gelembung gas? Perlu diteliti lebih jauh. "Misal pun itu gas, (intensitasnya) cukup lemah," ujarnya.
Berbincang sejenak dengan warga, Basuki mendapat informasi soal terbakarnya rumpun bambu dan sawah tak jauh dari bendung.
Setahun lalu, rumpun bambu itu terbakar sendiri. Begitu pula dengan sedikit area sawah di belakang pos ronda sekitar empat bulan lalu.
Api membara nirsebab.
Beranjak ke bendung, Basuki mendapat informasi bahwa anak-anak yang sedang memancing mencium aroma gas.
Lima anak itu pun diajak berbincang tentang pengakuan tersebut.
Area di mana bau gas tercium itu merupakan salah satu titik yang diteliti sendiri oleh Basuki pada Senin (1/6/2026) kemarin.
Pemetaan geofisika
Tim Geofisika UPN bakal melakukan pemetaan rekaman geofisika di Kasuran, Rabu (3/6/2026) ini.
"Informasi-informasi ini tentu berharga. Tim Geofisika (UPN) besok akan turun untuk melakukan pemetaan. Yang jelas ini adalah fenomena alam, bisa dijelaskan secara ilmiah," jelas Basuki.
Basuki mengatakan, pemetaan rekaman geofisika ini bertujuan untuk mengetahui kondisi lapisan batuan bawah permukaan.
Langkah awal ini dilakukan lantaran kebakaran kini meluas ke tetangga sebelah utara rumah Agus Yani.
“Jadi kan dari geologinya ada data-data yang sudah dikumpulkan di permukaan, batuan-batuan ini. Kami butuh data valid secara geofisika, batuannya nyebar kemana, yang mana batuan itu diduga kuat sebagai sumbernya gas. Yang kemarin saya sampaikan batuan lanau warna gelap, diduga kuat karbon organik,” katanya.
Melalui rekaman geofisika tersebut akan diketahui lapisan batuan yang diindikasikan sebagai zona-zona gas metan.
“Indikasi kuat gas metan, karena kalau di dalam, ternyata juga muncul di persawahan. Di bawah kan tentunya ada sebuah lapisan jejak rawa, batuan-batuan yang membawa gas. Rekaman geofisika itu hasilnya sebuah lapisan yang diindikasikan sebagai zona-zona gas metan pada batuan apa,” sambungnya.
Perilaku gas
Setelah hasil pemetaan geofisika didapatkan, pihaknya akan melakukan seismik refraksi untuk mengetahui kurida yang tersimpan.
Basuki menilai perilaku gas di sekitar kawasan tersebut cukup menarik.
Bahkan, fenomena ini menjadi yang pertama kali ia alami selama meneliti gas.
Pasalnya, kebakaran tidak hanya terjadi di dalam rumah yang kondisinya lembap, tetapi juga di luar rumah.
“Ini menjadi hal yang sangat unik, perilaku gas ini. Rumahnya Fia (putri Agus Yani) ini kan lembap, artinya mengandung kandungan H2O. Diduga kuat gas itu masih beterbangan di rumah ini. Karena lembab, banyak pakaian menggantung di dinding, pakaian juga lembap. Gas yang diduga kuat gas metan ini dari bawah permukaan rumah ini, sebuah molekul CH4 itu kan selalu menempel pada molekul pada H2O. Nah H2O ini kelembapan tadi, kelembapan itu salah satunya di pakaian, deklit,” terangnya.
Kebakaran lebih sering terjadi pada malam dan pagi hari, yang mana kondisinya lebih lembap.
Kondisi lembap pada malam hari menyebabkan barang-barang berembun.
Sifat gas yang menempel pada molekul H2O kemudian kontak dengan oksigen menyebabkan gesekan kedua molekul tersebut menyebabkan kebakaran.
Ia pun menyarankan agar ventilasi di rumah Agus Yani diperbanyak supaya kondisi dalam rumah lebih kering.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menyebut, pelibatan akademisi dalam penanganan misteri api di Seyegan menjadi bagian penting lantaran BPBD tidak memiliki kapasitas untuk melakukan penelitian.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan dapat diketahui secara pasti penyebabnya.
Di samping itu, pelibatan akademisi juga diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat.
"Kalau bicara BPBD, kita bukan lex specialis untuk hal-hal seperti itu. Ada ahlinya yang nanti bisa merumuskan, menentukan, menemukan apa penyebabnya. Sehingga, tenanglah masyarakat itu, aman, nyaman, nggak usah panik," ujarnya.
Bambang menambahkan untuk saat ini warga yang mengungsi masih keluarga Agus Yani.
Sementara warga lainnya belum ada yang dilaporkan mengungsi karena fenomena kebakaran di Kasuran. (hdy/maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Lewat-Tengah-Malam-di-Seyegan-Titik-Api-Membakar-Lagi.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.