PSIM Yogyakarta
PSIM Muda Akhiri EPA 2025/2026, U-16 Jadi Harapan Laskar Mataram
Pada musim perdana keikutsertaan di EPA Super League, capaian tim muda PSIM terbilang cukup beragam di setiap kelompok usia.
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- PSIM U-20 finis di dasar klasemen Grup B, sementara U-18 berada di tiga terbawah.
- Tim U-16 tampil terbaik dengan posisi ketiga klasemen sementara berkat mayoritas pemain lokal DIY.
- Manajemen menilai cedera, kedalaman skuad, dan jadwal padat jadi kendala utama performa tim.
- Evaluasi musim depan difokuskan pada peningkatan kualitas dan kuantitas pemain agar bisa bersaing dengan akademi besar.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Skuad muda PSIM Yogyakarta baru saja menuntaskan seluruh rangkaian pertandingan Elite Pro Academy (EPA) Super League musim 2025/2026. Laga terakhir Laskar Mataram Muda berlangsung pada Minggu (2/5/2026) di Stadion Gemilang.
Pada musim perdana keikutsertaan di EPA Super League, capaian tim muda PSIM terbilang cukup beragam di setiap kelompok usia.
PSIM U-16 di peringkat atas klasemen
Tim U-20 harus mengakhiri musim di dasar klasemen akhir Grup B dengan koleksi 19 poin dari 32 pertandingan. Sementara itu, tim U-18 finis di tiga terbawah Grup B setelah mengumpulkan 29 poin dari 32 laga.
Hasil terbaik justru diraih skuad U-16 yang mampu menempati posisi ketiga klasemen sementara Grup B dengan raihan 53 poin dari 32 pertandingan.
Meski demikian, posisi tersebut masih berpeluang digeser oleh Bali United maupun Persebaya yang masih menyisakan dua pertandingan.
Manajer EPA PSIM Yogyakarta, Joshua Dio, mengaku cukup puas dengan perjalanan tim muda PSIM di musim pertama mereka tampil di kompetisi usia muda kasta tertinggi tersebut.
“Secara keseluruhan untuk musim pertama teman-teman lumayan puas. Saya juga lumayan puas dengan perkembangannya, apalagi di skuad U-16,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Talenta lokal, catatan positif
Menurutnya, pencapaian tim U-16 menjadi catatan positif tersendiri karena mayoritas pemain yang tampil merupakan talenta lokal DIY. Bahkan, raihan poin musim ini disebut sudah melampaui target awal manajemen.
“Ternyata kita bisa bicara banyak dengan komposisi hampir 95 persen pemain lokal DIY. Kita bisa berbicara banyak, bahkan kita masih punya kans untuk finis di tiga besar grup,” katanya.
Di sisi lain, Joshua mengakui performa kelompok usia U-18 dan U-20 belum maksimal. Faktor cedera hingga minimnya kedalaman skuad menjadi kendala utama yang memengaruhi konsistensi permainan sepanjang musim.
“Mungkin di kelompok umur U-18 salah satu kelompok umur agak meleset. Tapi kalau kita bilang meleset juga terlalu tinggi untuk dinilai karena memang ini musim pertama mereka di EPA,” jelasnya.
Padatnya jadwal pertandingan juga menjadi tantangan besar bagi seluruh tim. Dalam satu akhir pekan, pemain kerap harus menjalani dua pertandingan beruntun dengan intensitas tinggi.
“Tidak bisa pemain bertanding di dua game berturut-turut dengan level dan intensitas sama, pemain pasti akan sangat lelah. Apalagi U-16 dan U-18 main di pagi dan siang hari, itu lumayan menguras energi,” tutur Joshua.
Evaluasi: tingkatkan kualitas pemain
Ia menilai sejumlah klub besar memiliki keuntungan dari sisi kedalaman materi pemain. Hal itu membuat mereka mampu menjaga performa tim meski harus menjalani jadwal padat.
“Jumlah dan kualitas pemain kita mungkin belum sekaya Bali United atau Persebaya. Bali United bisa memainkan dua tim berbeda di dua hari beruntun dengan kualitas sama. Belum lagi nanti kalau bertemu tim besar lainnya, seperti Persija dan lainnya,” paparnya.
Karena itu, evaluasi untuk musim depan akan difokuskan pada peningkatan kualitas sekaligus kuantitas pemain di seluruh kelompok usia. Manajemen ingin memiliki lebih banyak pemain dengan kualitas yang merata agar rotasi tim dapat berjalan optimal.
“Selama ini rata-rata pemain yang main di hari Sabtu dan Minggu sama, jadi pasti di hari Minggu akan drop karena lebih lelah. Kita perlu pemain yang lebih banyak dengan kualitas yang sama atau di atasnya, dari pemain musim ini yang akan kita pertahankan untuk musim depan,” ungkapnya.
Perekrutan pemain muda
Joshua menambahkan, proses perekrutan pemain baru nantinya tidak hanya mengejar jumlah, tetapi juga kualitas yang sesuai standar tim pelatih.
“Yang jelas bukan cuma kuantitas. Percuma kalau kuantitasnya lebih banyak tapi saat dimainkan kita tidak percaya diri atau tidak in. Pertama kita harus menetapkan standarnya dulu agar bisa konsisten,” katanya.
Meski masih banyak evaluasi yang harus dilakukan, Joshua tetap optimistis menatap musim depan. Ia percaya PSIM Muda bisa bersaing dengan akademi-akademi besar lain di EPA apabila proses pembinaan dilakukan lebih matang.
“Jika dikelola dengan lebih baik lagi musim depan, saya rasa PSIM bisa bersaing dengan akademi-akademi yang sudah lama di EPA. Kita tidak perlu minder. Untuk tahun pertama ini yang penting kita punya fondasi dulu,” pungkasnya.
| PSIM Yogyakarta Ikut Senang PSS Sleman Promosi ke Super League, Van Gastel Nantikan Derby DIY |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta Kalah dari Persib Bandung, Van Gastel: Kami Memulai Laga dengan Buruk |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta Takluk dari Persib Bandung, Puasa Kemenangan Laskar Mataram Berlanjut |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta Siap Tantang Persib di Bandung, Tanpa Beban Usai Pastikan Bertahan di Super League |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta Tujuh Laga Tanpa Menang Usai Dikalahkan Persita, Van Gastel Angkat Bicara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/PSIM-Muda-Akhiri-EPA-20252026-U-16-Jadi-Harapan-Laskar-Mataram.jpg)