Kota Yogyakarta Alami Deflasi Tipis 0,01 Persen pada April 2026
Melandainya harga komoditas, terutama yang terjadi pada kelompok bahan pangan membuat angka inflasi secara bulanan menyentuh zona negatif.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gelombang kenaikan harga barang dan jasa yang sempat membumbung tinggi selama momen Lebaran di Kota Yogyakarta silam menunjukkan grafik melandai per April 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat, pada April 2026, Kota Pelajar mengalami deflasi sebesar 0,01 persen secara month-to-month (m-to-m) alias dibanding bulan sebelumnya.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menyampaikan tren negatif inflasi ini dipicu oleh koreksi harga sejumlah komoditas makanan pasca-Idulfitri yang jatuh pada Maret lalu.
"Inflasi April ini jika kita bandingkan dengan Maret memang cenderung turun. Maret itu kan Lebaran, banyak komoditas harganya naik. Nah, di bulan April ini harga kembali ke semula atau turun," tandasnya, Senin (4/5/2026).
Joko menjelaskan, melandainya harga-harga, terutama yang terjadi pada kelompok bahan pangan membuat angka inflasi secara bulanan menyentuh zona negatif.
Baca juga: Minyak Goreng hingga LPG dan BBM Nonsubsidi Jadi Komoditas Utama Penyumbang Inflasi DIY April 2026
Kabar menggembirakan juga terlihat dari data inflasi secara tahunan (year-on-year) yang kondisinya jauh lebih terkendali dibandingkan tahun lalu yang menyentuh angka psikologis 4 persen.
"Kalau secara year-on-year, tahun lalu kita sempat menyentuh angka 4 koma (persen), tapi sekarang sudah di angka 2,62 persen. Ini menunjukkan kondisi yang jauh lebih stabil dibanding tahun sebelumnya," imbuhnya.
Meski akan menghadapi momen Iduladha pada bulan Mei ini, BPS Kota Yogyakarta memprediksi tekanan inflasi tidak akan sekuat saat hari raya Idulfitri silam.
Joko menilai, karakteristik pergerakan masyarakat dan konsumsi pada Iduladha cenderung lebih terbatas, di mana permintaan diprediksi hanya meningkat pada komoditas tertentu seperti bumbu dapur serta bahan pelengkap olahan daging.
"Di bulan Mei ada Iduladha, tapi kemungkinan inflasinya tidak terlalu tinggi. Mobilitas penduduk tidak sebanyak saat Idulfitri. Untuk harga komoditas, menurut saya relatif stabil dan tidak terlalu fluktuatif," pungkasnya. (*)
| Fluktuasi Harga BBM Penyumbang Utama Inflasi DIY Pasca Momen Ramadan dan Idulfitri 1447 H |
|
|---|
| Momen Lebaran Dorong Inflasi Kota Yogyakarta Maret 2026, Harga Daging Ayam dan Emping Jadi Pemicu |
|
|---|
| DIY Alami Inflasi Bulanan Sebesar 0,68 Persen pada Februari 2026 |
|
|---|
| Dampak Konflik AS-Iran, BPS Kota Yogyakarta Sebut Harga BBM Barpotensi Jadi Pemicu Inflasi Maret |
|
|---|
| Tren Konsumsi di Kota Yogyakarta Berubah, Cabai Rawit Jadi Pemicu Inflasi Februari 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260405-Kepala-BPS-Kota-Yogyakarta-Joko-Prayitno.jpg)