Kasus PMK dan Antraks Masih Ditemukan di DIY, Vaksinasi dan Lalu Lintas Ternak Diperketat

Menjelang perayaan Idul Adha 2026, DPKP DIY mencatat bahwa kasus penyakit menular masih ditemukan

Dok. Humas Pemda DIY
PENYAKIT HEWAN - Aris Eko Nugroho. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat bahwa kasus penyakit menular pada hewan ternak masih ditemukan di wilayahnya.  

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 2026, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat bahwa kasus penyakit menular pada hewan ternak masih ditemukan di wilayahnya. 

Penyakit tersebut meliputi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Antraks, hingga Lumpy Skin Disease (LSD). Meski demikian, otoritas terkait memastikan situasi tetap terpantau dan langkah pengendalian terus digencarkan.

Berdasarkan data DPKP DIY, tren kasus PMK pada tahun 2026 menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2025.

Hingga saat ini, tercatat ada ratusan kasus PMK, belasan kasus LSD yang tersebar di Kabupaten Bantul dan Sleman, serta temuan kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul pada awal tahun.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, memaparkan rincian temuan kasus penyakit ternak tersebut beserta langkah konkret yang telah diambil oleh jajarannya.

Ia menegaskan bahwa intervensi langsung di lapangan dilakukan sesuai instruksi pemerintah pusat.

"Kasus PMK masih terjadi tetapi jumlahnya lebih rendah dibanding 2025. Tahun 2026 terlaporkan 299 kasus penyakit PMK dengan 8 kematian dan 277 sudah sembuh. Kasus antraks 2026 terjadi di GK (Gunungkidul) yaitu di Dadapayu, Semanu dan Nglindur Kulon, Girisubo pada bulan Januari dan sudah dilakukan pengendalian. Untuk LSD juga masih terjadi di Bantul 10 kasus dan Sleman 1 kasus. Langkahnya tentu seperti arahan pusat, hewan sakit obati, hewan sehat vaksinasi," jelas Aris, Senin (13/4).

Lebih lanjut, Aris menjelaskan bahwa upaya pengendalian dan pencegahan tidak hanya bertumpu pada pengobatan klinis semata.

Pendekatan komprehensif lintas instansi turut dikerahkan demi memastikan kesehatan hewan kurban terjamin sebelum jatuh tempo penyembelihan.

"Untuk pengendalian sudah dilakukan pengobatan, penyuntikan vaksinasi, penyemprotan desinfektan, sosialisasi masyarakat dan kerjasama lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah)," tambahnya.

Upaya pencegahan

Sebagai langkah antisipasi utama, DPKP DIY mengandalkan program vaksinasi dan pengetatan lalu lintas ternak antardaerah. 

Percepatan distribusi vaksinasi, baik untuk PMK maupun antraks, tengah berlangsung dengan sasaran puluhan ribu hewan ternak

Pos-pos penjagaan lalu lintas hewan pun mulai diintensifkan untuk mencegah mobilitas ternak yang sakit masuk atau keluar dari wilayah DIY.

"Untuk vaksin PMK tahun ini sudah didistribusikan 52 ribu dosis ke kabupaten/kota dari target 104 ribu dosis. Sampai saat ini 37.880 ekor sudah tervaksin. Untuk vaksin antraks kami menyiapkan 4.000 dosis vaksin dari APBD, dan masih meminta tambahan vaksin dari pusat. Lalu lintas ternak mulai lebih diketatkan melalui 7 lalu lintas ternak," jelas Aris.

Masyarakat dan peternak diimbau untuk terus kooperatif serta melaporkan setiap temuan gejala klinis pada hewan peliharaannya agar penyebaran penyakit dapat segera ditangani sebelum memasuki puncak permintaan hewan kurban.

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved