Mangayubagya 80 Tahun Sri Sultan HB X

Harapan Sri Sultan HB X dalam Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80: Lir Gumanti

Disinggung mengenai harapan serta langkah untuk DIY ke depannya, Sultan memberikan jawaban filosofis

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Jogja/HANIF SURYO
HARAPAN SULTAN HB X- Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan keterangan kepada awak media di Bangsal Pagelaran Kompleks Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026), seusai pelaksanaan kirab dan sowan massal yang diikuti sebanyak 10.000 hingga 12.000 warga, bersama lurah dan pamong kalurahan se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rombongan tersebut membawa ragam hasil bumi dalam rangka perayaan Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Sultan. 

Ringkasan Berita:
  • Belasan ribu warga, bersama lurah dan pamong kalurahan se-DIY, menggelar kirab dan sowan massal ke Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).
  • Mereka membawa ragam hasil bumi ini hadir dalam rangka perayaan Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
  • Disinggung mengenai harapan serta langkah untuk DIY ke depannya, Sultan memberikan jawaban yang filosofis. Ia menekankan bahwa roda perubahan akan terus berjalan. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebanyak 10.000 hingga 12.000 warga, bersama lurah dan pamong kalurahan se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menggelar kirab dan sowan massal ke Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).

Rombongan yang membawa ragam hasil bumi ini hadir dalam rangka perayaan Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Setelah menerima secara langsung penghormatan dari warga, Sultan menyampaikan rasa syukurnya meski secara fisik prosesi tersebut cukup menguras tenaga.

"(Saya) berdiri 3 jam lebih, ora kuat. Saya terima kasih kepada teman-teman semua, para pejabat yang hadir dalam kesempatan ini. Semoga saja juga sama-sama sehat, yang penting itu," ujar Sultan di Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).

Saat disinggung mengenai harapan serta langkah untuk DIY ke depannya, Sultan memberikan jawaban yang filosofis. Ia menekankan bahwa roda perubahan akan terus berjalan.

"Ya bagaimanapun, semuanya akan terjadi lir gumanti (seperti berganti atau bak bergulir)," tegasnya.

Sultan pun turut menyoroti kualitas hasil bumi warga DIY yang sangat baik, sembari mengingatkan bahwa sektor agraris ke depan membutuhkan perhatian ekstra.

"Ini kan (hasil bumi) saya kembalikan ke mereka lagi. Untuk warga masyarakat, makanya saya serahkan sama Pak Bupati/Wali Kota dengan harapan agar bisa dibagi rata dan bermanfaat bagi masyarakat," pungkas Sultan.

Gotong Royong dan Tanda Terima Kasih

Dalam kirab massal tersebut, setiap kalurahan memproyeksikan pengiriman 20 hingga 30 orang perwakilan. Hasil bumi yang dibawa sangat beragam, di antaranya singkong, pepaya, beras, ketela, kelapa, uwi, dan sayur-mayur.

Terdapat pula ternak seperti ayam, angsa, mentok, hingga burung. Salah satu yang paling mencuri perhatian publik adalah gunungan bawang merah (brambang) seberat 1 kuintal yang dibawa oleh perwakilan Kelurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul.

Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY (Nayantaka), Gandang Hardjanta, menjelaskan bahwa momentum kirab ini murni merupakan wujud penghormatan serta ungkapan terima kasih masyarakat kepada sosok pemimpin mereka.

"Iya, ini sebagai wujud terima kasih kami kepada Ngarsa Dalem, ya bahwa di usia 80 tahun masih mengayomi kami, masih mengayomi segenap masyarakat DIY secara luas. Dan pada kesempatan ini yang utama adalah kami masyarakat Jogja mengucapkan selamat ulang tahun kepada Ngarsa Dalem yang ke-80. Itu yang paling penting," ungkap Gandang.

Gandang juga memastikan bahwa gunungan dan hasil bumi tidak dinikmati secara sepihak oleh pihak keraton, membenarkan arahan lir gumanti yang disampaikan Sultan.

"Ini ya, istilahnya kita memberikan pesan bahwa Jogja itu penuh kegotongroyongan. Jadi gelondong pengarem-arem itu betul kita haturkan ke Keraton, tetapi dari Keraton dibagikan bagi yang membutuhkan melalui Bapak/Ibu Bupati. Bukan untuk Keraton, melainkan dikembalikan lagi ke masyarakat," tuturnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved