Tak Seramai Tahun Lalu, Belanja Wisatawan Libur Lebaran 2026 di Sleman Turun

Rerata belanja wisatawan yang pada tahun lalu menyentuh angka Rp1 juta hingga Rp1,2 juta per orang, kini merosot tajam menjadi Rp563.759.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/Ahmad Syarifudin
WISATA SLEMAN: Foto dok ilustrasi. Taman wisata tebing Breksi di Prambanan 
Ringkasan Berita:
  • Rata-rata belanja wisatawan di Sleman saat Lebaran 2026 turun tajam menjadi Rp563.759 akibat daya beli melemah dan fenomena “rojali”.
  • Kunjungan wisatawan ikut menurun 9,57 persen dipicu tren micro-tourism, dominasi wisatawan lokal, serta faktor cuaca ekstrem.
  • Okupansi hotel turun menjadi 70 persen karena wisatawan lebih memilih menginap di rumah kerabat atau akomodasi murah tak berizin.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman mencatat penurunan signifikan pada angka pengeluaran wisatawan selama periode libur Lebaran 2026. 

Rerata belanja wisatawan yang pada tahun lalu menyentuh angka Rp1 juta hingga Rp1,2 juta per orang, kini merosot tajam menjadi Rp563.759.

Kondisi ini diperparah dengan munculnya fenomena "Rojali" atau rombongan jarang beli. Fenomena ini merujuk pada perilaku wisatawan yang hanya melintas di destinasi wisata tanpa banyak melakukan transaksi ekonomi yang berarti.

Belanja wisatawan anjlok

Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sleman, Kus Endarto, mengamini adanya penurunan daya beli tersebut. Menurutnya, anjloknya angka belanja wisatawan di Bumi Sembada dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya membaik.

"Wisatawan lebih menahan diri untuk membelanjakan uangnya di tempat wisata, dan anomali pengeluaran di mana meskipun volume kendaraan atau orang yang lewat mungkin terlihat banyak, mereka cenderung menjadi 'wisatawan pelintas' yang tidak menginap atau membelanjakan banyak uang di destinasi lokal," ujar Kus Endarto, Rabu (1/4/2026).

Menurut Kus, situasi ini serupa dengan tren yang sempat terjadi di pusat perbelanjaan, yakni munculnya istilah unik seperti Rojali (rombongan jarang beli), Rotasi (rombongan tanpa transaksi) hingga Rosalie (rombongan suka selfie). Selain daya beli, lesunya kinerja pariwisata juga dipicu oleh tren micro-tourism. Masyarakat kini cenderung memilih berwisata jarak pendek di sekitar tempat tinggal. 

Hal ini terkonfirmasi dari data wisatawan yang masih didominasi warga lokal DIY dan Jawa Tengah sebesar 35,6 persen. Sisanya, dari Jawa Timur 32,4 persen dan DKI Jakarta, Jabar hingga Banten hanya 27,5 persen. 

Faktor cuaca

Di sisi lain, faktor cuaca ekstrem, seperti panas terik menjelang akhir Ramadan diikuti hujan intensitas tinggi sejak H+2 Lebaran, serta durasi libur yang lebih panjang di awal periode, turut menjadi penyebab menurunnya kunjungan.

Berdasarkan data Dispar Sleman selama 16 hari pencatatan (14-29 Maret 2026), total kunjungan wisatawan mencapai 502.267 orang. Angka ini turun 9,57 persen dibandingkan periode Lebaran 2025. Penurunan kunjungan ini berdampak langsung pada pendapatan retribusi daerah yang terkoreksi 18,04 persen, dari Rp330,9 juta menjadi Rp271,2 juta.

Meski secara umum mengalami penurunan, Candi Prambanan tetap menjadi magnet utama dengan kontribusi kunjungan sebesar 27,47 persen, disusul kawasan Kaliadem 19,48 persen dan disusul Kaliurang 15,68 persen. Sementara itu, sektor kuliner masih menjadi tulang punggung pengeluaran wisatawan dengan porsi mencapai 29,5 persen.

Okupansi hotel

Di sektor perhotelan, kata Kus, mengacu pada data terakhir BPD PHRI Daerah Istimewa Yogyakarta, rata-rata okupansi hotel, baik bintang maupun non bintang di Sleman pada periode libur lebaran 2026 adalah 70 persen. Bila dibandingkan dengan periode lebaran 2025 sebesar 80 persen, hal ini berarti terdapat penurunan 12,5 persen.

 Penurunan ini disebabkan kondisi perekonomian yang belum membaik, yang mengakibatkan banyak pemudik memilih tinggal di rumah keluarga atau kerabat dekat dari pada di hotel.  

"Selain itu, keberadaan akomodasi tak berizin yang menawarkan harga lebih murah, mengakibatkan banyak wisatawan yang lebih memilih untuk tidak menginap di hotel. Hal ini terkonfirmasi dari turunnya persentase belanja akomodasi menjadi 25,4 persen pada periode libur lebaran 2026, dibandingkan dengan persentase belanja akomodasi pada tahun 2025 sebesar 29,5 persen," terang dia. (*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved