Bulan Sabit Setinggi 6,5 Meter Jadi Simbol Kebersamaan Warga Turi Sleman

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat gotong royong dan kekompakan antarwarga.

Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Bulan sabit raksasa setinggi 6,5 meter karya warga Dusun Turi, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM - Tradisi membuat replika atau patung untuk diarak saat malam takbiran masih terus dijaga oleh umat Muslim. Setiap menjelang Idulfitri, masyarakat berkreasi menghadirkan berbagai karya tematik bernuansa Islami yang kemudian diarak keliling desa.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang memperkuat gotong royong dan kekompakan antarwarga.

Dari tradisi tersebut, lahirlah sebuah karya mencolok berupa replika bulan sabit raksasa setinggi 6,5 meter yang menjadi pusat perhatian warga Dusun Turi, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

Simbol perjalanan waktu ibadah umat islam

Karya itu tidak hanya tampil saat malam takbiran, tetapi juga dipajang saat salat Idulfitri, Jumat (20/3/2026), di lapangan Desa Donokerto. Kehadirannya langsung menyedot perhatian jemaah, bahkan banyak yang memanfaatkannya sebagai latar untuk berfoto usai ibadah.

Replika tersebut digagas oleh Sungkeni, seorang seniman yang merancang konsep dengan menggabungkan sejumlah simbol dalam Islam. Ia menjelaskan, bentuk bulan sabit dipilih sebagai penanda perjalanan waktu ibadah umat Islam, dari awal Ramadan hingga Idulfitri, sementara masjid merepresentasikan ruang penghambaan.

“Bulan sabit itu menandai dimulainya Ramadan sampai berakhir di Idulfitri, sementara masjid menjadi lambang tempat ibadah,” ujarnya, saat diwawancarai Sabtu (21/3/2026).

Proses pembuatan karya ini memakan waktu sekitar dua bulan, dimulai dari tahap perancangan hingga finishing. Berbagai material seperti bambu, kayu, tripleks, hingga styrofoam digunakan untuk membentuk struktur besar yang tetap kokoh.

Dalam pengerjaannya, tantangan terbesar muncul saat menyatukan bentuk sabit dengan struktur penyangga utama. Ukuran yang besar menuntut perhitungan detail agar tetap stabil, terutama saat diarak.

“Kesulitannya ada saat memasang bentuk sabit ke penyangga utama, karena harus benar-benar dihitung supaya kuat dan seimbang,” katanya.

Pengingat pentingnya kebersamaan

Pada malam takbiran, replika ini diarak keliling desa dengan melibatkan sekitar 40 orang. Tradisi ini menjadi momen yang dinanti warga, terlebih pelaksanaannya bersifat bergilir dan hanya berlangsung setiap lima tahun sekali dalam agenda PHBI Desa Donokerto.

Seluruh proses pembuatan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemuda yang tergabung dalam Tury Squad, takmir Masjid Al Jami’ Nurul Huda, hingga warga Dusun Turi. Keterlibatan kolektif ini sekaligus menjadi pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut.

“Kami ingin karya ini juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat,” ucap Sungkeni.

Lebih dari sekadar karya visual, replika bulan sabit raksasa ini menjadi simbol bagaimana tradisi, kreativitas, dan nilai kebersamaan terus hidup di tengah masyarakat.(nto)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved