KONI DIY Petakan Kekuatan Menuju PON 2028, Kepastian Cabang Olahraga Belum Final
KONI DIY pun mulai mempertimbangkan penjaringan atlet dari kalangan mahasiswa yang memiliki potensi dan belum pernah membela daerah lain.
Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Cabang olahraga PON 2028 belum final, dengan sekitar 60 cabor masih dalam pembahasan.
- KONI DIY memprioritaskan cabor berdasarkan perolehan medali PON 2024 sambil menyiapkan regenerasi atlet.
- DIY berharap cabor berprestasi seperti hapkido tetap dipertandingkan, sambil memetakan potensi cabor baru.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 masih menyisakan sejumlah ketidakpastian, terutama terkait cabang olahraga yang akan dipertandingkan.
Kondisi ini membuat daerah, termasuk DIY, masih terus melakukan pemetaan kekuatan atlet dan cabang olahraga yang berpotensi menyumbang medali.
Pernyataan KONI DIY
Sekretaris Umum KONI DIY, KMT A Tirtodiprojo yang akrab disapa Joko Tirtono, menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 60 cabang olahraga yang masuk dalam pembahasan PON.
Jumlah tersebut berasal dari berbagai kategori, mulai dari cabang olahraga Olimpiade hingga cabang yang dipertandingkan di ajang multievent lainnya.
“Sekarang ini ada sekitar 60 cabang olahraga. Itu terdiri dari cabang Olimpiade sekitar 35 cabang, kemudian ada cabang dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), cabang SEA Games, World Games, serta beberapa cabang yang memiliki status khusus,” kata Joko Tirtono, Senin (16/3/2026).
Cabor PON belum final
Namun demikian, hingga saat ini kepastian cabang olahraga yang benar-benar akan dipertandingkan pada PON 2028 masih belum final.
Banyak pengurus besar (PB) maupun pengurus pusat (PP) cabang olahraga yang masih mengajukan permintaan kepada KONI agar cabang mereka tetap masuk dalam agenda pertandingan.
Menurutnya, hal tersebut cukup wajar karena jika suatu cabang olahraga tidak dipertandingkan dalam PON, maka aktivitas pembinaan dan kompetisinya bisa terhenti.
“Kalau tidak dipertandingkan, mereka bisa vakum. Ketika vakum, otomatis tidak ada kegiatan lain. Karena itu banyak pengurus cabang yang meminta agar tetap dipertandingkan,” jelasnya.
Selain itu, muncul pula beberapa cabang olahraga baru yang disebut-sebut akan masuk dalam daftar pertandingan. Kondisi ini membuat daerah harus lebih cermat dalam menyusun strategi pembinaan atlet.
Prioritas
Dengan banyaknya cabang olahraga yang berpotensi dipertandingkan, DIY pun tidak bisa mempersiapkan semuanya secara maksimal. Karena itu, KONI DIY tetap mengacu pada capaian medali pada PON 2024 Aceh–Sumatera Utara sebagai dasar penentuan prioritas.
“Kami tetap mengacu pada perolehan medali pada PON 2024 di Aceh-Sumut. Dari situ kita lihat cabang mana yang masih memiliki potensi,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan lain juga muncul karena beberapa atlet peraih medali pada PON sebelumnya sudah memasuki usia yang tidak lagi memungkinkan untuk bertanding di PON 2028. Hal ini membuat proses regenerasi atlet menjadi sangat penting.
KONI DIY pun mulai mempertimbangkan penjaringan atlet dari kalangan mahasiswa yang memiliki potensi dan belum pernah membela daerah lain.
| Buntut Kasus Little Aresha, Sri Sultan HB X Instruksikan Penutupan Segera Daycare Tak Berizin |
|
|---|
| Guru Jadi Ujung Tombak Perkuat Edukasi soal Geopark Jogja, Dimulai dari MPLS |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Terima Aduan 149 Anak Korban Little Aresha Daycare, Minta Pendampingan Psikis |
|
|---|
| Budayawan Jogja Desak Pembentukan Komite AdHoc HAM, Tuntut Inggris Atas Peristiwa Geger Sepehi |
|
|---|
| Ozzy Clothing Wakili Brand Jogja di INATEX 2026, Pameran Tekstil dan Garmen Terbesar Asia Tenggara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/KONI-DIY-Petakan-Kekuatan-Menuju-PON-2028-Kepastian-Cabang-Olahraga-Belum-Final.jpg)