Batal Relokasi, SDN Nglarang Sleman Bakal Dibangun Ulang di Sisa Lahan Terdampak Tol

Pembangunan ulang gedung SDN Nglarang Tlogoadi Sleman disepakati tetap dilakukan di sisa lahan yang tersedia.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribunjogja.com/Ahmad Syarifudin
BATAL RELOKASI - Sejumlah pekerja proyek tol Jogja Solo paket 2.2 sedang bekerja di sekitar bangunan gedung SD Negeri Nglarang, Tlogoadi, Kabupaten Sleman. Rencana relokasi SD Negeri Nglarang di Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, resmi dibatalkan. 
Ringkasan Berita:
  • Rencana relokasi SD Negeri Nglarang di Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, resmi dibatalkan.
  • Pembangunan ulang gedung sekolah disepakati tetap dilakukan di sisa lahan yang tersedia dari lahan yang terdampak pembangunan jalan tol
  • Selama masa konstruksi, Pemkab Sleman memastikan aspek pendidikan tetap menjadi prioritas

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rencana relokasi SD Negeri Nglarang di Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, resmi dibatalkan.

Meski sebagian lahan sekolah terdampak proyek Tol Jogja-Solo Paket 2.2, pembangunan ulang gedung sekolah disepakati tetap dilakukan di sisa lahan yang tersedia.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan menggelar rapat internal untuk membahas teknis pembangunan, sekaligus menjamin agar kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa tidak terganggu.

Terkendala Lahan Pengganti

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menjelaskan bahwa SD Negeri Nglarang semula akan dipindahkan.

Namun, rencana tersebut terkendala penyediaan lahan pengganti yang terus berubah.

Menurutnya, hambatan utama permasalahan ini dipicu oleh komunikasi yang kurang efektif antarpihak terkait.

Berdasarkan rapat kerja bersama Pemerintah Kalurahan Tlogoadi, akhirnya disepakati bahwa sekolah tetap berada di lokasi semula.

"Kami telah bersepakat dengan pihak kalurahan (Tlogoadi) berkaitan dengan SD tidak jadi pindah. Tetap dilokasi yang sama," kata Harda, Rabu (11/3/2026) malam. 

Untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut, Pemkab Sleman akan melibatkan Dinas Pendidikan serta Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) untuk membahas rencana tapak (site plan).

Langkah ini bertujuan untuk menyesuaikan desain bangunan dengan luasan lahan yang tersisa agar pembangunan dapat segera dilaksanakan.

Selama masa konstruksi, Harda memastikan aspek pendidikan tetap menjadi prioritas. 

Para siswa direncanakan akan menjalani proses belajar mengajar di bangunan sementara.

Baca juga: Kesiapan Capai 95 Persen, Tol Fungsional Purwomartani- Prambanan Siap Dilintasi Mulai 16 Maret 

Pembiayaan Pembangunan

Terkait pembiayaan, pihak pengelola jalan tol menyanggupi dana pembangunan gedung sebesar Rp3,1 miliar. 

Gedung lama yang merupakan bangunan era Inpres tersebut akan dibongkar total karena terdampak proyek tol sekaligus kondisi fisiknya yang sudah tua.

Jika anggaran dari pihak tol tidak mencukupi, Pemkab Sleman siap menutup kekurangan pembangunan tersebut melalui APBD.

"Saya sampaikan dalam rapat, kita lihat kecukupan dana tersebut. Jika sarana dan prasarananya masih kurang, itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Pendidikan harus tetap jalan," tegas Harda.

Menanggapi kekhawatiran mengenai kebisingan karena posisi sekolah yang berdampingan langsung dengan jalan tol, Harda menilai hal tersebut bukan kendala utama. 

Sebab ia berpendapat belum ada kajian spesifik yang menyatakan kebisingan jalan tol secara signifikan mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Selain itu, banyak sekolah di wilayah lain yang tetap beroperasi meski berada di pinggir jalan tol akibat keterbatasan lahan pengganti.

"Nggak (mengganggu). Itukan belum ada penelitian juga yang berkaitan dengan kebisingan itu. Saya nyuwun sewu dibantu, kalau belum ada analisa, nek betul-betul mengganggu ya," kata dia.

Proses relokasi SD Negeri Nglarang di Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Sleman, yang terdampak proyek Jalan Tol Jogja-Solo paket 2.2, masih terhambat oleh kerumitan perizinan lahan pengganti.
Proses relokasi SD Negeri Nglarang di Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Sleman, yang terdampak proyek Jalan Tol Jogja-Solo paket 2.2, masih terhambat oleh kerumitan perizinan lahan pengganti. (KOMPAS.com/Wijaya Kusuma)

Drama Relokasi

Rencana relokasi SD Negeri Nglarang ini telah menuai jalan panjang.

Semula gedung sekolah dasar di Tlogoadi ini akan direlokasi di Tanah Kas Desa tak jauh dari lokasi sekolah.

Wali murid sempat protes, karena gedung relokasi tak kunjung dibangun, sementara siswa telah kebisingan alat berat pembangunan tol. Apalagi ada opsi sekolah darurat.

Usut punya usut, pihak tol belum membangun gedung relokasi karena terkendala perizinan. Lahan relokasi masuk Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Izin diupayakan dengan meminta diskresi ke Kementerian di Jakarta. Namun karena tak kunjung mendapatkan persetujuan, lahan relokasi diganti.

Semua pihak sepakat dan awalnya menemui titik terang. Pihak tol juga telah melakukan persiapan untuk proses pembangunan.  

Saat itu Pejabat Humas PT Adhikarya, penggarap proyek Jalan Tol Jogja- Solo paket 2.2, Agung Murhandjanto, mengatakan lahan pengganti sudah disurvei dan diukur.

Bahkan segera dibersihkan atau clearing dan penimbunan karena kondisi lahan relokasi ledokan.

Langkah ini sebagai persiapan sebelum pembangunan gedung seiring dengan proses pengurusan siteplan. 

"Kalau pertengahan tahun ini optimis bisa dibangun. Pokoknya bulan bulan depan bisa lah (dibangun)," kata Agung, pada 14 Januari lalu.

Kini lahan pengganti tersebut ternyata diganti lagi.

Kini gedung sekolah disepakati dibangun ulang di lahan sisa yang masih tersedia.

Artinya gedung SD Negeri Nglarang nantinya berdampingan dengan jalan tol

( tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved